TANAH GROGOT – Gemuruh tepuk tangan membahana di GOR Kadrie Oening, Samarinda, Kamis (9/1/2025). Di tengah kemeriahan Hari Ulang Tahun ke-69 Provinsi Kalimantan Timur, tepuk tangan itu diberikan kepada Muhammad Arfah (40), Camat Long Kali Kabupaten Paser yang meraih prestasi Camat terbaik di Kaltim 2025.
Hari itu, bukan sekadar plakat penghargaan atau emas 20 gram dari Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud yang ia bawa pulang, melainkan sebuah pengakuan atas perjuangan panjang "menjemput bola" di wilayah perbatasan yang kerap terlupakan.
Long Kali bukanlah wilayah dengan fasilitas serba ada. Sebagai daerah perbatasan, tantangan infrastruktur dan keterbatasan sumber daya menjadi "makanan" sehari-hari. Namun, di tangan Muhammad Arfah, keterbatasan tersebut tidak dijadikan alasan untuk pasrah. Sebaliknya, ia menjadikannya pemantik untuk lahirnya kepemimpinan yang adaptif.
“Kami tidak menyangka bisa meraih juara pertama. Mengingat Long Kali berada di wilayah perbatasan dengan berbagai keterbatasan, penghargaan ini adalah kejutan sekaligus tanggung jawab besar,” ujar Arfah, Minggu (11/1/2026).
Apa yang membuat Arfah berbeda? Jawabannya ada pada filosofi pelayanannya yang hadir secara fisik. Melalui program "Camat Menyapa", Arfah memecahkan sekat birokrasi. Ia dan jajarannya tak segan untuk bermalam di desa-desa terpencil, duduk melingkar bersama warga, dan mendengarkan keluh kesah masyarakat di bawah temaram lampu desa.
Tak berhenti di situ, lahirlah program "Sapa Warga Long Kali". Inilah solusi nyata bagi warga desa yang selama ini kesulitan mengurus administrasi kependudukan karena jarak dan biaya. Petugas datang langsung ke desa. Tanpa pungutan sepeser pun. Inovasi ini memangkas birokrasi yang berbelit dan menutup celah pungli.
Visi alumni Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) melampaui urusan surat-menyurat. Ia memahami bahwa kesejahteraan warga adalah kunci. Melalui Klinik BUMDes, ia mendorong kemandirian ekonomi desa.
Baca Juga: Bikin Miris, Puluhan Anak di Paser Jadi Korban Kekerasan Sepanjang 2025
Bahkan, di tengah kepungan perkebunan kelapa sawit, ia berani menginisiasi program "Paser Berbuah" dengan mengandalkan komoditas jambu air sebagai alternatif ekonomi baru.
Ia menegaskan bahwa pencapaian ini adalah buah dari kerja kolektif. Dukungan dari Pemerintah Kabupaten Paser melalui visi Paser Tuntas menjadi bahan bakar utama bagi mesin inovasi di Long Kali.
Bagi masyarakat Long Kali, Arfah bukan sekadar pejabat yang bekerja di balik meja kayu yang rapi. Ia adalah sosok yang membuktikan bahwa negara hadir, bahkan hingga ke teras-teras rumah warga di pelosok desa.
“Kami berkomitmen bahwa kesetiaan dan loyalitas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat adalah harga mati. Kami ingin pelayanan pemerintah benar-benar dirasakan langsung oleh warga,” katanya.
Penghargaan Camat Berprestasi Terbaik I ini kini menjadi standar baru bagi para pemimpin wilayah di Kalimantan Timur, bahwa inovasi tidak butuh kemewahan, ia hanya butuh kepedulian dan keberanian untuk melangkah lebih dekat kepada rakyat.
"Bagi saya sebagai praja adalah Dharma Satya Nagara Bhakti, artinya kesetiaan dan loyalitas memberikan pelayanan adalah harga mati," kata mantan Lurah dan Sekretaris Kecamatan Long Kali itu.
Editor : Muhammad Ridhuan