KALTIMPOST.ID, PENAJAM- Selama bertahun-tahun, banyak warga tidak mengetahui bahwa Kecamatan Penajam di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) memiliki sejarah yang kaya dan unik. Dulu, daerah ini dikenal dengan sebutan “Balikpapan Seberang” karena letaknya yang berada di seberang Kota Balikpapan. Nama itu bukan tanpa alasan, sebab dahulunya wilayah ini merupakan bagian dari Kotamadya Balikpapan sebelum akhirnya diserahkan ke Kabupaten Paser.
Sebelum menjadi kabupaten yang mandiri pada 2022, PPU---termasuk Kecamatan Penajam---merupakan bagian dari Kabupaten Paser yang kala itu bernama Pasir. Namun, seiring berjalannya waktu, muncul aspirasi kuat dari masyarakat untuk memisahkan diri. Mereka menginginkan kesejahteraan yang lebih baik dan pelayanan publik yang lebih dekat, yang sulit dicapai karena jarak yang jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Paser.
Perjuangan ini berbuah manis pada tahun 2002. Melalui Undang-Undang (UU) Nomor 7 Tahun 2002, Kabupaten PPU resmi berdiri sebagai kabupaten baru. Bersamaan dengan itu, Penajam yang semula dikenal sebagai “Balikpapan Seberang” resmi menjadi salah satu kecamatan. Untuk memenuhi syarat pemekaran, Kecamatan Penajam bahkan dimekarkan lagi menjadi dua, yaitu Kecamatan Penajam dan Kecamatan Sepaku.
Baca Juga: Stok Melimpah di Pasaran, Harga Cabai dan Bawang Merah di Penajam Paser Utara Turun
Saat ini, Kecamatan Penajam memegang peran vital sebagai pusat pemerintahan Kabupaten PPU. Di sinilah kantor bupati dan berbagai kantor pemerintahan lainnya berada, menjadikannya jantung aktivitas administrasi dan pembangunan di kabupaten tersebut. Perkembangan ini menegaskan transformasi luar biasa dari sebuah "daerah seberang" menjadi pusat strategis.
Tak hanya sejarah administratif, nama "Penajam" juga memiliki kisah yang menarik. Menurut cerita rakyat yang beredar, nama tersebut berasal dari kata "pajan" dalam bahasa Bugis yang berarti "berhenti". Kisah ini konon berkaitan dengan sekelompok perampok yang bertobat dan memutuskan untuk menghentikan perbuatan jahat mereka setelah mengalami kekalahan dalam pertempuran. Mereka kemudian menetap di daerah ini, dan nama "Penajam" menjadi pengingat akan kisah pertaubatan tersebut.
Sejarah ini menunjukkan bahwa nama “Penajam” tidak hanya sekadar penanda geografis, tetapi juga menyimpan narasi tentang perubahan, perjuangan, dan harapan. Bagi warga PPU, memahami sejarah ini sama dengan memahami identitas daerah mereka, sebuah perjalanan panjang dari “Balikpapan Seberang” hingga menjadi salah satu kabupaten penting di Kalimantan Timur, dan kini salah satu kecamatannya, yaitu Kecamatan Sepaku menjadi Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. (*)
Editor : Muhammad Rizki