Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Sejarah Budaya Paser di Balik IKN, Suara Paidah Menyoal Situs Adat Terancam Punah

Ari Arief • Rabu, 27 Agustus 2025 | 12:59 WIB
SEJARAH: Paidah Riansyah (kanan), pemerhati budaya dan sejarah Paser sekaligus pengurus DPD Lembaga Adat Paser (LAP) PPU di bidang kebudayaan dan pariwisata.
SEJARAH: Paidah Riansyah (kanan), pemerhati budaya dan sejarah Paser sekaligus pengurus DPD Lembaga Adat Paser (LAP) PPU di bidang kebudayaan dan pariwisata.

KALTIMPOST.ID, PENAJAM – Di balik gemuruh pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara (PPU), ada suara-suara yang merangkum kekhawatiran mendalam akan hilangnya warisan budaya dan sejarah yang tak ternilai. Salah satunya datang dari Paidah Riansyah, seorang pemerhati budaya dan sejarah Paser sekaligus pengurus DPD Lembaga Adat Paser (LAP) Kabupaten PPU di bidang kebudayaan dan pariwisata.

Paidah Riansyah mengungkapkan bahwa tak banyak warga PPU yang menyadari betapa kaya dan rentannya sejarah di tanah mereka sendiri. “Banyak yang tidak tahu bahwa wilayah kita ini menyimpan cagar budaya dan situs adat yang kini terancam punah,” kata Paidah Riansyah saat membuka obrolan, baru-baru ini.

Paidah mencontohkan bagaimana pembangunan IKN telah menimpa situs-situs sakral Suku Paser Balik, seperti Batu Badok dan Batu Tukar Tondoi di Sungai Sepaku. “Itu situs ritual penting, tempat leluhur kami menerima persembahan,” jelasnya. Sayangnya, situs-situs tersebut kini hilang di tengah pembangunan.

Ancaman serupa juga menghantui makam-makam tua dan situs sejarah lain milik masyarakat adat Paser Maridan. “Proyek IKN tidak hanya menggusur tanah, tetapi juga meminggirkan ruang hidup, tradisi, dan pengetahuan lokal kami,” kata Paidah.

Ia menyoroti minimnya perlindungan dan pengakuan terhadap wilayah adat, membuat ritual seperti Besoyong---ritual meminta izin kepada alam gaib saat membuka lahan---terancam terlupakan.

Perbincangan kemudian beralih ke hal-hal yang lebih "dekat" dengan keseharian masyarakat; nama-nama daerah. Paidah menjelaskan bahwa banyak nama di PPU berasal dari kondisi alam dan bahasa lokal. “Ambil contoh Nipahnipah, namanya karena di sana dulu banyak pohon nipah. Lalu, Petung karena banyak bambu petung, dan Gersik karena banyak kersik atau pasir,” paparnya.

Ada juga cerita unik di balik nama Semayang. “Dulu, masyarakat sering mencari mayang, bunga pinang, untuk upacara pernikahan di sana. Dalam bahasa Paser, 'mencari mayang' disebut 'semayang',” ujar Paidah.

Terdapat juga nama-nama yang kini berubah dari aslinya. “Pantai yang kini dikenal sebagai Pantai Lango sebenarnya dulu disebut 'Lango' karena warnanya pink dalam bahasa Paser,” ungkap Paidah, meski ia menambahkan ada juga pendapat yang mengaitkannya dengan tokoh Paser bernama Dato' Lango.

Nama-nama lain pun mengalami perubahan, seperti Jenebora yang seharusnya disebut Jonebura. “Jone itu artinya pasir, dan bura itu putih. Jadi, sebenarnya namanya adalah Pasir Putih,” katanya.

Begitu pula dengan Pulau Balang yang sejatinya adalah Pulau Belang, karena konon tanah di salah satu sisinya memiliki berbagai warna, membuatnya terlihat belang. “Ada juga Gusung Beras Basah,” lanjut Paidah, "yang berasal dari bahasa Paser 'Bias Bosa'." Nama itu bermula dari kisah seorang tokoh Paser Telake yang kapalnya terdampar, membuat muatan berasnya basah.

Tak lupa, Paidah mengingatkan makna di balik semboyan PPU, “Benuo Taka”. “Semboyan itu berarti kawasan ini adalah tempat berbagai suku, ras, dan budaya berkumpul, tetapi tetap menjadi satu kesatuan dalam ikatan kekeluargaan,” jelasnya.

Ia juga meluruskan bahwa Suku Balik sebenarnya adalah bagian dari subsuku Paser, bukan suku yang terpisah. “Hal ini penting untuk diketahui agar masyarakat memahami kekayaan dan keanekaragaman identitas lokal yang ada di sini,” tegasnya.

Di akhir perbincangan, Paidah kembali menegaskan harapannya agar pembangunan IKN dapat berjalan beriringan dengan upaya pelestarian. “Jangan sampai karena kemajuan, kita kehilangan akar kita,” tandasnya. (*)

Editor : Duito Susanto
#Penajam Paser Utara (PPU) #budaya lokal