KALTIMPOST.ID, PENAJAM–Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) pertama Himpunan UMKM Taman Alun-Alun (HUTA) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) berlangsung meriah, Sabtu (18/10) malam, di Taman Alun-Alun Penyembolum, Komplek Kantor Bupati PPU.
Warga tumpah ruah memadati area alun-alun, turut menyaksikan dan merayakan momentum satu tahun berdirinya wadah bagi para pelaku UMKM lokal tersebut.
Kegiatan yang digelar selama dua hari sejak 17 hingga 18 Oktober itu menandai perayaan pertama sejak HUTA resmi dibentuk pada 15 Oktober 2024.
Ketua HUTA Muh Pramanta Dwi Nopriandy mengungkapkan, penentuan tanggal perayaan disesuaikan dengan momentum akhir pekan agar lebih ramai dikunjungi masyarakat. “Legalitas HUTA itu terbentuk pada 15 Oktober 2024, tapi untuk momen perayaannya kami ambil di malam akhir pekan, yaitu 17-18 Oktober, agar lebih semarak dan bisa dinikmati masyarakat luas,” ujar Pramanta.
HUTA saat ini telah menaungi 159 pelaku UMKM, dengan sekitar 120 di antaranya masih aktif menjalankan usahanya secara rutin. Selama satu tahun berdiri, HUTA tidak hanya menjadi wadah koordinasi dan promosi, tetapi juga berinovasi dalam penguatan branding dan infrastruktur.
Salah satu program unggulan yang telah dijalankan adalah Branding Atap dan Ruang UMKM yang didukung Kementerian BUMN. Melalui program tersebut, sebanyak 110 unit tenda dan booth seragam disediakan untuk pelaku UMKM di area alun-alun, guna menciptakan tampilan yang lebih tertata dan profesional.
“Konsepnya kami ingin UMKM terlihat serasi dan seragam. Jadi model tenda dan booth-nya disamakan agar terlihat lebih rapi, layaknya kawasan kuliner modern,” jelas Pramanta.
Memasuki tahun kedua, HUTA telah mengusulkan program digitalisasi berupa penyediaan sistem kasir digital. Rencana itu diajukan untuk 100 pelaku UMKM dan akan mencakup perangkat mesin kasir dan printer struk bluetooth.
“Meski street food, tapi pelayanannya seperti di mal. Ada struk, ada pencatatan keuangan digital. Semua bisa terakses dengan aplikasi,” terang Pramanta. Dia juga menegaskan bahwa UMKM akan dikurasi terlebih dahulu untuk memastikan kesiapan menghadapi sistem digitalisasi.
Menjawab tantangan penurunan daya beli masyarakat, HUTA turut menghadirkan inovasi berupa stimulus ekonomi melalui pembagian kupon potongan belanja sebesar Rp 5.000. Kupon tersebut diberikan langsung pelaku UMKM kepada pengunjung setiap ada event di alun-alun.
“Itu bentuk stimulus dari kami agar masyarakat tetap belanja. Biasanya yang cuma datang menonton jadi tertarik membeli karena ada potongan harga,” sambungnya. Pramanta berharap agar HUTA dan seluruh pelaku UMKM yang tergabung di dalamnya dapat semakin berkembang dan mandiri, serta terus menjadi roda penggerak ekonomi daerah.
“Harapan kami, teman-teman UMKM bisa lebih maju. Alun-alun ini sudah menjadi sentral dan role model penggerak ekonomi di PPU. Dulu orang berpikir kalau mau hiburan malam Minggu harus ke Balikpapan. Sekarang, cukup ke alun-alun,” ungkapnya.
Meski mengakui ada penurunan kunjungan dan daya beli di tahun ini, Pramanta optimistis bahwa kekuatan kolaborasi dan kemandirian UMKM di bawah HUTA akan mampu menghadapi berbagai tantangan ke depan.
Bupati PPU Mudyat Noor turut hadir dalam perayaan tersebut, dan mengapresiasi atas kontribusi HUTA dalam membangun ekosistem UMKM yang mandiri dan kreatif. “Kami berharap UMKM seperti HUTA terus berkembang, karena itu salah satu cara efektif dalam memperkuat ekonomi masyarakat lokal,” singkatnya. (*)
Editor : Dwi Restu A