PENAJAM – Institut Teknologi Kalimantan (ITK) kembali menunjukkan komitmennya dalam pengabdian kepada masyarakat melalui penerapan teknologi Eco-Coco Filtration (ECF) di KIM Sentra Sabut Kelapa Kriya Inovasi Mandara, Kelurahan Saloloang, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Inovasi berbasis limbah kelapa ini menjadi jawaban atas keterbatasan air bersih yang selama ini menghambat efisiensi produksi pelaku UMKM setempat.
Program pengabdian masyarakat tahun 2025 tersebut dilaksanakan oleh tim dosen ITK yang terdiri dari Moch Purwanto, Rizka Ayu Yuniar, Jefri Pandu Hidayat, dan Nita Ariestiana Putri dari Program Studi Teknik Kimia, serta Muhamad Nur Ibnu Luthfi Saud dari Teknik Lingkungan. Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa lintas program studi sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual sekaligus transfer teknologi kepada masyarakat.
Mahasiswa yang terlibat antara lain Aryo Setyo Nugroho, Julio Firhan Hidayat Gazali, Sufiya Rahmi, Rizca Aulia Shinta Dewi, dan Dian Adika Basunjaya dari Teknik Kimia, Muhammad Ikhsan Bachtiar dari Teknik Mesin, serta Tsabitah Putri Nabila dari Teknik Lingkungan ITK.
Moch Purwanto menjelaskan bahwa teknologi Eco-Coco Filtration dikembangkan sebagai Teknologi Tepat Guna berbasis potensi lokal.
“ECF memanfaatkan sabut kelapa, kulit kelapa, serta karbon aktif dari cangkang kelapa sebagai media filtrasi alami. Sistem ini dirancang agar mudah dioperasikan oleh UMKM dengan biaya rendah dan konsumsi energi minimal,” ujarnya.
Program bertajuk “Eco-Coco Filtration (ECF): Solusi Pengolahan Air Berbasis Limbah Kelapa untuk Mendukung Industri Berkelanjutan di IKM Sentra Sabut Kelapa” tersebut diawali dengan analisis situasi dan dialog langsung bersama mitra. Pendekatan ini dilakukan agar solusi yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan lapangan dan dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Hasil implementasi menunjukkan sistem ECF mampu menurunkan nilai electrical conductivity (EC) air hingga berada pada tingkat aman, yakni ≤600 µS/cm. Capaian ini memungkinkan air digunakan secara optimal dalam proses produksi, sekaligus menekan biaya operasional, meningkatkan kualitas produk, dan memperkuat daya saing industri sabut kelapa lokal.
Selama ini, KIM Sentra Sabut Kelapa Kriya Inovasi Mandara masih mengandalkan air tanah dengan kualitas terbatas. Untuk menjaga mutu produk seperti cocopeat dan coco fiber, pelaku usaha harus membeli air bersih tambahan dalam jumlah besar, yang berdampak pada tingginya biaya produksi.
Baca Juga: Pengabdian ITK, Mentari Village Balikpapan Kini Terapkan Pengelolaan Sampah Terstruktur
Perwakilan mahasiswa ITK, Julio Firhan Hidayat Gazali, menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam program ini memberikan pengalaman langsung dalam penerapan ilmu teknik di masyarakat.
“Kami terlibat sejak tahap survei lapangan, perancangan, hingga instalasi unit filtrasi. Dari hasil uji coba, air menjadi lebih jernih, bau dan warna berkurang, serta nilai konduktivitas listrik menurun sehingga layak digunakan untuk proses produksi,” katanya.
Implementasi sistem ECF dilakukan secara bertahap, dimulai dari pemetaan kebutuhan mitra, pemasangan unit filtrasi, hingga pengujian kualitas air. Teknologi ini dapat dioperasikan secara kontinu maupun batch, menyesuaikan kebutuhan produksi UMKM.
Ketua Kriya Inovasi Mandara, Rusni Febriyanti, mengapresiasi kontribusi kampus dalam membantu menyelesaikan persoalan mendasar yang dihadapi pelaku usaha.
“Kehadiran teknologi ini sangat membantu kami. Biaya pembelian air bisa ditekan, kualitas produksi lebih terjaga, dan limbah kelapa yang melimpah kini memiliki nilai tambah,” ujarnya.
Selain memperkuat ketersediaan air bersih, program ini juga mendorong penerapan prinsip ekonomi sirkular dan penguatan UMKM ramah lingkungan di wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).
Program pengabdian tersebut didukung pendanaan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat melalui kontrak nomor 12948/IT10.L1/PPM.04/2025, sebagai wujud peran aktif ITK dalam menghadirkan inovasi berbasis kebutuhan nyata masyarakat.