KALTIMPOST.ID, PENAJAM-Tragedi memilukan yang menimpa SA (14), pelajar kelas 1 SMP asal Desa Babulu Darat, Kecamatan Babulu, Penajam Paser Utara (PPU) yang ditemukan meninggal dunia pada Kamis (12/2) sore, menyisakan duka mendalam bagi publik PPU.
Fakta baru mulai terungkap, diduga kuat aksi nekat remaja tersebut dipicu oleh trauma panjang akibat perundungan (bullying) yang dialaminya sejak sekolah dasar.
Kesedihan ini turut dirasakan oleh Indrayani, istri Wakil Bupati PPU, Abdul Waris Muin. Melalui unggahan di media sosial pribadinya, tenaga ahli Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) PPU ini mengungkapkan rasa terpukulnya atas kepergian remaja tersebut.
Luka Lama, Korban Bully Sejak Kelas 4 SD
Dalam unggahannya yang menyentuh hati, Indrayani menyoroti sisi kelam di balik kepergian almarhumah.
Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan cerita dari sang ibu, SA telah memendam beban psikologis yang berat akibat perundungan yang ia alami dalam waktu yang sangat lama.
Baca Juga: Tragis, Remaja 14 Tahun di Babulu PPU Ditemukan Meninggal Tergantung Saat Orang Tua di RS
"Dunia pendidikan kembali terpukul dengan berpulangnya ananda ke rahmatullah. Seorang anak gadis kelas 1 SMP yang ternyata menjadi korban bully sejak duduk di kelas 4 SD," tulis Indrayani.
Ia menambahkan bahwa trauma tersebut terus membayangi kehidupan almarhumah hingga puncaknya terjadi pada Kamis sore itu, saat ia ditemukan tak bernyawa di kediamannya.
Seruan Melawan Perundungan
Peristiwa ini menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan dan para orang tua di PPU. Indrayani mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tidak menutup mata terhadap praktik perundungan yang sering dianggap sepele, namun berdampak fatal pada mental anak.
Baca Juga: Target Mei 2026, Wamenag Tinjau Kesiapan Basilika Nusantara di IKN untuk Pertemuan Uskup
"Kepada orang tua, keluarga, serta seluruh siswa di Kabupaten PPU, mari kita bersama-sama mengawal perbaikan karakter anak. Mohon untuk tidak tinggal diam ketika melihat atau mendapati anak menjadi korban bully," tegasnya.
Komitmen Perbaikan Karakter
Sebagai bagian dari Disdikpora PPU, Indrayani menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap lingkungan sekolah dan rumah.
Kasus SA diharapkan menjadi titik balik bagi instansi terkait untuk memperkuat program perlindungan anak dan konseling di sekolah-sekolah guna mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Kepergian SA kini menjadi pengingat pahit bahwa luka akibat kata-kata dan tindakan perundungan bisa meninggalkan bekas yang tak terlihat, namun mematikan.
Pihak keluarga dan kerabat kini hanya bisa mendoakan agar almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.(*)
Editor : Almasrifah