KALTIMPOST. ID, PENAJAM-Sebuah momentum bersejarah bagi masyarakat adat di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) tercipta hari ini. Polemik dualisme kepemimpinan di tubuh Lembaga Adat Paser (LAP) PPU yang sempat mewarnai dinamika internal organisasi akhirnya resmi berakhir melalui jalur damai atau Islah.
Bertempat di Kuta Adat Paser (Rumah Adat Paser), Kecamatan Penajam, PPU, Minggu (15/2/2026), dua pihak yang selama ini berseberangan, yakni Musa dan Bahrani, duduk bersama untuk menandatangani Berita Acara Kesepakatan Islah.
Ketua DPD Laskar Pertahanan Adat Paser (LPAP) PPU, Zulpani Paser, yang hadir sebagai saksi sekaligus fasilitator utama dalam pertemuan tersebut, menyatakan rasa syukur yang mendalam atas tercapainya kesepakatan ini.
"Hari ini kita menyaksikan kedewasaan para tokoh adat kita. Islah ini bukan soal siapa yang menang atau kalah, tapi demi muruah, harkat, dan martabat Suku Paser di tanah PPU. Kami di LPAP berkomitmen penuh mengawal persatuan ini agar tidak ada lagi sekat di antara masyarakat adat," ujar Zulpani saat ditemui usai pertemuan.
Poin Utama Kesepakatan
Dalam surat kesepakatan yang ditulis tangan tersebut, Bahrani secara ksatria menyatakan sikap untuk mengakhiri dualisme. Ia menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab kepemimpinan kepada Musa sebagai satu-satunya ketua Lembaga Adat Paser di Kabupaten PPU.
Ada tiga poin krusial yang disepakati oleh kedua belah pihak. Mendukung percepatan musda LAP Kabupaten PPU untuk memperkuat struktur organisasi, menyatakan secara tegas bahwa tidak ada lagi dua kubu LAP di PPU, dan mengakui secara sah bahwa saat ini LAP PPU hanya dipimpin oleh satu orang, yakni Musa.
Disaksikan Tokoh Kesultanan
Prosesi perdamaian ini berlangsung khidmat dengan kehadiran tokoh-tokoh penting. Selain Zulpani Paser, turut hadir sebagai saksi adalah YM. Perdana Menteri Kesultanan Paser, Aji Lukman Panji, serta kerabat Kesultanan Paser, Rakhmadi.
Zulpani menambahkan bahwa langkah Islah ini diambil atas kesadaran diri demi kepentingan masyarakat luas. Dengan bersatunya LAP, diharapkan program-program pemberdayaan masyarakat adat dan pelestarian budaya Paser dapat berjalan lebih maksimal dan solid.
"Harapan kami, setelah ini seluruh elemen masyarakat adat Paser merapatkan barisan. Kita punya tanggung jawab besar untuk membangun daerah ini, dan itu hanya bisa dilakukan jika kita bersatu," tegas Zulpani.
Pertemuan yang berlangsung pada pukul 15.27 Wita tersebut diakhiri dengan penandatanganan berkas dan foto bersama sebagai simbol dimulainya babak baru persaudaraan masyarakat Paser di Penajam Paser Utara.(*)
Editor : Thomas Priyandoko