KALTIMPOST.ID, PENAJAM—Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (KUKM Perindag) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) memastikan ketersediaan bahan pokok aman menjelang Ramadan.
Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Dinas KUKM Perindag PPU, Marlina, usai monitoring di sejumlah pasar dan distributor.
Monitoring dilakukan di Pasar Induk Penajam dan Pasar Waru, serta sejumlah distributor di wilayah Penajam seperti PJA, Alfamidi, Ujung Pandang Grosir, dan RJS.
“Sudah monitoring di berbagai pasar dan distributor khususnya menjelang Ramadan. Kami ingin memastikan ketersediaan bahan pokok di pasar maupun di distributor dalam kondisi aman,” ujarnya.
Dari hasil pantauan, seluruh kebutuhan pokok masyarakat dipastikan tersedia dan distribusi berjalan lancar. Para distributor, lanjutnya, menyampaikan, pendistribusian bahan pokok telah terjadwal dengan baik.
“Mudah-mudahan tidak ada kendala dalam pendistribusian sembako dari Banjarmasin, Balikpapan, Samarinda maupun Makassar,” jelasnya.
Namun, terdapat kenaikan harga pada komoditas cabai. Saat ini harga cabai di tingkat petani mencapai Rp 70 ribu per kilogram, sedangkan di pasar dijual sekitar Rp 80 ribu per kilogram. Kenaikan harga dipengaruhi faktor cuaca, terutama musim hujan yang berdampak pada produksi petani.
“Memang cabai agak susah-susah gampang, apalagi saat musim hujan. Kondisi petani terpengaruh cuaca, sehingga harganya naik,” katanya.
Ia berharap Dinas Pertanian dapat meningkatkan produksi cabai guna mengantisipasi potensi kelangkaan. Pasalnya, kebutuhan cabai dan sayur-mayur di PPU meningkat seiring adanya program SPPG dan MBG yang bermitra dengan petani lokal untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan.
“Kita harapkan produksi pertanian di PPU bisa lebih ditingkatkan agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi,” ujarnya.
Selain memantau stok, pihaknya juga terus mengawasi distribusi dan harga komoditas bersubsidi seperti beras SPHP dan minyak goreng Minyakita. Marlina menegaskan, minyak subsidi tidak boleh dijual di atas harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.
“Minyakita distribusinya satu pintu melalui Bulog, jadi relatif aman. Pedagang juga sudah memahami bahwa tidak boleh menjual di atas HET karena itu minyak subsidi pemerintah,” tegasnya.
Pengawasan akan terus dilakukan hingga menjelang Idulfitri, termasuk memberikan edukasi kepada pedagang terkait penjualan barang bersubsidi.
Untuk minyak goreng non-subsidi, Marlina menyebutkan terdapat sekitar 48 merek yang beredar di PPU. Masyarakat dipersilakan memilih sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing.
“Banyak pilihan merek yang tersedia, seperti Bimoli, Fortune, dan Minyakita. Jadi masyarakat bisa memilih sesuai kebutuhan. Distribusi juga lancar, bahkan ada distributor yang mengirim ke toko hingga empat kali dalam seminggu,” pungkasnya. (*)
Editor : Dwi Restu A