Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Menjaga Muruah Paser di Tengah Arus IKN, Budaya Adalah Benteng Jati Diri

Ari Arief • Kamis, 26 Februari 2026 | 06:10 WIB

NONDOI: Panitia Nondoi yang penyelenggaraannya telah digelar di PPU pada 2025 lalu.
NONDOI: Panitia Nondoi yang penyelenggaraannya telah digelar di PPU pada 2025 lalu.

KALTIMPOST.ID,PENAJAM-Di tengah derasnya arus modernisasi dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), kelestarian adat istiadat suku asli menjadi benteng pertahanan jati diri bangsa.

Paidah Riyansyah, Kepala Bidang Kebudayaan dan Pariwisata, DPD Lembaga Adat Paser (LAP) Penajam Paser Utara (PPU), menegaskan bahwa kekayaan budaya Kaltim, khususnya suku Paser, bukan sekadar tontonan, melainkan modal sosial yang vital bagi pembangunan daerah yang berkelanjutan.

Menurut Paidah, Indonesia telah lama diakui sebagai "Adidaya Budaya" di kancah global. Namun, status tersebut menuntut tanggung jawab besar bagi generasi lokal untuk menjaga warisan leluhur.

"Budaya nasional itu lahir dari akar tradisi daerah. Jika tradisi lokal luntur, maka jati diri bangsa ikut rapuh. Di Paser, kami memiliki ritual yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, hingga alam semesta," kata Paidah, Rabu (25/2/2026).

Baca Juga: Jamin Keamanan Ibadah Ramadan 1447 H, Polres PPU Kerahkan Pasukan Gabungan

Ritual sebagai Solusi Sosial dan Spiritual

Dikatakannya, suku Paser, yang mendiami wilayah PPU, Paser, hingga Balikpapan, hingga kini masih teguh memegang teguh berbagai ritual adat. Paidah merinci empat tradisi utama yang menjadi pilar kehidupan masyarakat Paser.

Balian (media pengobatan dan syukur). Ritual ini merupakan sarana pengobatan tradisional untuk penyakit yang tidak terjangkau secara medis.

Dipimpin oleh seorang Pemelian, upacara ini menjadi wujud syukur dan doa keselamatan agar warga terhindar dari marabahaya.

Nondoi (bersih kampung). Menjadi salah satu ritual tertua, Nondoi kini telah bertransformasi menjadi festival budaya tahunan di PPU. "Dahulu diprakarsai oleh Raja Nondoi dari Kesultanan Paser. Tujuannya sakral, yakni membersihkan kampung dari energi negatif," jelas Paidah.

Baca Juga: 10.073 Peserta PBI JK di Samarinda Nonaktif, Begini Cara Reaktivasi untuk Kasus Mendesak

Mayar Sala (rekonsiliasi adat). Ini adalah mekanisme perdamaian unik suku Paser. Jika terjadi perselisihan, tradisi Mayar Sala hadir untuk meredam dendam melalui musyawarah yang dipimpin oleh Mulung dan Tuwo Kampoeng (Kepala Adat).

Tipong Tawar (kearifan pertanian). Dalam sektor agraris, mantra Tipong Tawar dilantunkan saat masa tanam dan panen. Selain sebagai doa keberkahan, ritual ini mempererat semangat gotong-royong antarpetani.

Tantangan Globalisasi dan Harapan Masa Depan

Paidah Riyansyah tidak memungkiri bahwa era globalisasi membawa tantangan berat. Masyarakat modern saat ini cenderung memilih pola hidup yang praktis dan mulai meninggalkan tradisi yang dianggap rumit.

"Masalah utamanya adalah menurunnya minat generasi muda untuk mempelajari dan mewarisi budaya sendiri. Padahal, pembangunan daerah yang ideal harusnya berjalan beriringan dengan kearifan lokal, bukan justru menggusurnya," tambahnya.

Baca Juga: Bontang Raih Peringkat 4 Kota Bersih Nasional, Agus Haris Pastikan Bonus Pasukan Kuning Tetap Ada

Ia berharap, pemerintah dan pihak-pihak terkait dalam pembangunan IKN tetap menempatkan budaya Paser sebagai pondasi pembangunan. Menurutnya, harmoni antara kemajuan infrastruktur dan kelestarian adat adalah kunci menuju masyarakat yang maju namun tetap beretika.

"Kearifan lokal adalah modal sosial. Dengan menjaga kerukunan melalui tradisi seperti Mayar Sala dan Balian, kita sedang membangun fondasi bangsa yang kuat dan sejahtera," kata Paidah.(*)

Editor : Dwi Puspitarini
#Adat Paser #paser #tradisi #IKN #ppu #balikpapan