Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Kontras dengan Kutim, Angka Kurang Pangan PPU Diproyeksi Terendah di Kaltim

Ari Arief • Jumat, 27 Februari 2026 | 14:10 WIB

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Penajam Paser Utara, Mulyono.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Penajam Paser Utara, Mulyono.

KALTIMPOST.ID, PENAJAM-Di saat sejumlah wilayah di Kaltim mulai mewaspadai kenaikan angka ketidakcukupan konsumsi pangan (Prevalence of Undernourishment/PoU), Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) justru diprediksi mampu menjaga tren positif.

Berdasarkan data statistik terbaru, Benuo Taka dinilai memiliki ketahanan yang lebih solid dibandingkan wilayah lain seperti Kutai Timur yang mengalami lonjakan signifikan.

Laju angka ketidakcukupan pangan di PPU diproyeksikan tetap berada di bawah rata-rata kenaikan provinsi pada tahun 2025.

Hal ini menjadi sinyal positif di tengah dinamika ekonomi yang dipicu oleh pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Dampak Positif Logistik IKN

Pengamat ekonomi lokal menilai bahwa status PPU sebagai daerah mitra utama IKN memberikan keuntungan logistik yang tidak dimiliki wilayah lain.

Kelancaran distribusi barang dari pelabuhan dan jalur darat trans-Kalimantan membuat pasokan bahan pokok di pasar-pasar tradisional seperti Pasar Induk Penajam tetap melimpah.

Baca Juga: Jaga Ekosistem Pesisir, Sat Polairud Polres PPU Gelar Aksi Bersih Pantai di Desa Kayu Api

"Aksesibilitas adalah kunci. Ketika jalur distribusi terbuka lebar karena proyek strategis nasional, volatilitas harga pangan bisa ditekan. Ini yang menjaga daya beli masyarakat PPU tetap stabil," ujar salah satu analis kebijakan publik daerah.

Lumbung Pangan Babulu Jadi Penyangga

Sektor pertanian, khususnya di Kecamatan Babulu, tetap menjadi tulang punggung yang mengamankan konsumsi domestik.

Meskipun ada tantangan alih fungsi lahan, produktivitas padi di wilayah tersebut diklaim masih mampu memenuhi kebutuhan dasar kalori penduduk lokal.

Salah satu capaian paling krusial adalah angka Prevalensi Kurang Pangan (PoU) yang diproyeksikan mampu ditekan hingga di bawah angka 5%.

Angka ini menempatkan PPU dalam kategori wilayah dengan status Terkendali, sebuah pencapaian signifikan mengingat tantangan inflasi yang membayangi Kaltim secara umum.

Baca Juga: Waspada Cuaca Ekstrem, BMKG Prediksi Hujan Petir Guyur Wilayah PPU di Akhir Februari

Keberhasilan ini tidak lepas dari intervensi pemerintah daerah dalam menjaga daya beli masyarakat, serta memastikan distribusi bantuan pangan tepat sasaran ke kantong-kantong penduduk rentan.

Waspada Inflasi Pendatang

Meski data menunjukkan angka yang menggembirakan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) PPU diingatkan untuk tidak lengah.

Lonjakan jumlah penduduk akibat migrasi pekerja IKN berpotensi memicu inflasi pada komoditas pangan tertentu seperti daging dan sayur-mayur.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) PPU, Mulyono dalam beberapa kesempatan menekankan pentingnya diversifikasi pangan agar ketergantungan pada satu jenis komoditas tidak menjadi bumerang saat terjadi gangguan suplai global.

"Target kita bukan hanya pangan itu tersedia, tapi harganya terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk warga lokal di pelosok desa," tegasnya.

Dengan koordinasi lintas sektor yang kuat, PPU optimistis dapat menutup tahun 2025 sebagai salah satu daerah dengan tingkat kerawanan pangan terendah di Kaltim.(*)

Editor : Almasrifah
#IKN #kutai timur #ppu #ketahanan pangan