Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

RSUD Ratu Aji Putri Botung Pastikan Pasien Viral Sudah Ditangani Sesuai SOP  

Ahmad Maki • Kamis, 12 Maret 2026 | 11:41 WIB

 

 

Direktur RSUD Ratu Aji Putri Botung, Lukasiwan.   
Direktur RSUD Ratu Aji Putri Botung, Lukasiwan.  

PENAJAM - Direktur RSUD Ratu Aji Putri Botung, Lukasiwan, memberikan klarifikasi terkait kasus pasien anak yang viral di media sosial karena disebut tidak mendapatkan pelayanan di rumah sakit tersebut. Menurut Lukasiwan, informasi yang beredar di media sosial tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi yang sebenarnya terjadi di lapangan.

Ia menegaskan bahwa pasien yang dimaksud tetap mendapatkan penanganan medis saat datang ke rumah sakit. “Kalau anak itu panas dan bisa mendapat obat, berarti sudah diperiksa. Tidak mungkin pasien mendapat obat kalau tidak dilayani,” ujarnya, Rabu (11/3/2026).

Ia juga menegaskan bahwa pada praktik pelayanan kesehatan tidak ada istilah penolakan pasien seperti yang sering muncul dalam pemberitaan atau narasi di media sosial. “Di mana pun di Indonesia sebenarnya tidak ada istilah penolakan pasien. Itu biasanya bahasa media saja supaya menarik dibaca,” katanya.

Lukasiwan menjelaskan, pasien anak tersebut datang melalui Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit dan langsung mendapatkan pemeriksaan oleh tenaga medis. Penanganan yang dilakukan mengacu pada prosedur operasional standar (SOP) medis yang berlaku di rumah sakit.

“Anak itu sempat masuk IGD dan sudah ditangani. Kami punya SOP medis yang harus diikuti,” jelasnya.

Ia menuturkan, dalam pelayanan di IGD terdapat sistem triase, yaitu metode untuk memilah pasien berdasarkan tingkat kegawatannya. Sistem ini digunakan agar pasien dengan kondisi paling kritis dapat segera mendapatkan penanganan terlebih dahulu.

“Triase itu untuk memilah pasien mana yang harus ditangani lebih dulu. Misalnya ada pasien yang masih bisa berbicara atau berteriak, sementara ada pasien lain yang sudah sesak napas dan tidak bisa berbicara. Tentu yang kondisinya lebih kritis harus ditangani terlebih dahulu,” ujarnya.

Karena itu, kata Lukasiwan, terkadang pasien atau keluarga merasa pelayanan terlambat, padahal petugas medis sedang memprioritaskan pasien lain yang kondisinya lebih darurat.

Ia juga menjelaskan bahwa kondisi pasien anak tersebut saat diperiksa masih dalam kategori yang dapat ditangani secara rawat jalan. Berdasarkan catatan medis, suhu tubuh pasien saat diperiksa berada di sekitar 37,4 derajat celsius.

“Dari data yang ada, suhu saat pemeriksaan sekitar 37,4 derajat. Dokter menilai kondisinya masih bisa ditangani,” katanya.

Setiap tindakan medis yang dilakukan, lanjut Lukasiwan, tercatat dalam dokumen medis yang dapat dipertanggungjawabkan. Mulai dari waktu pemeriksaan, suhu tubuh pasien, hingga hasil pemeriksaan laboratorium.

“Dalam medis semuanya berbasis data. Ada catatan kapan diperiksa, berapa suhu tubuhnya, hingga hasil pemeriksaan darah,” jelasnya.

Menanggapi viralnya kasus tersebut, pihak rumah sakit juga langsung melakukan evaluasi internal. Manajemen memanggil dokter dan tenaga kesehatan yang menangani pasien untuk menelusuri kronologi kejadian.

“Begitu kami membaca informasi itu, kami langsung melakukan evaluasi. Kami panggil dokternya, melihat kronologinya seperti apa,” katanya.

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa seluruh proses pelayanan telah dilakukan sesuai dengan prosedur operasional standar yang berlaku. “Dari hasil evaluasi, semuanya sudah sesuai prosedur,” ujar Lukasiwan.

Ia menambahkan, profesionalitas tenaga kesehatan di rumah sakit diukur dari kesesuaian tindakan medis dengan standar operasional, bukan semata-mata dari persepsi atau harapan masyarakat. “Profesional itu ketika kita bekerja sesuai SOP, bukan semata-mata sesuai harapan,” katanya.

Lukasiwan juga memastikan bahwa kondisi pasien anak yang sempat viral tersebut saat ini sudah dalam keadaan lebih baik. “Anaknya sudah lebih baik dan aman,” tandasnya.

Ia menegaskan bahwa pihak rumah sakit akan terus melakukan evaluasi pelayanan serta membuka ruang komunikasi dengan masyarakat agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam pelayanan kesehatan. (*)

Editor : Sukri Sikki
#viral #RSUD Ratu Aji Putri Botung #pasien