Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Soal Dugaan Keracunan Murid SD 008 Waru, Diskes PPU Sebut Sampel MBG Terkontaminasi Kuman, Begini Penjelasannya

Ahmad Maki • Kamis, 12 Maret 2026 | 13:28 WIB

Kepala Dinas Kesehatan PPU-dr Jansje Grace Makisurat
Kepala Dinas Kesehatan PPU-dr Jansje Grace Makisurat

 


KALTIMPOST.ID, PENAJAM—Dinas Kesehatan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) memastikan adanya kontaminasi kuman pada beberapa sampel makanan terkait kasus dugaan keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di SD 008 Waru, beberapa waktu lalu.

Kepala Dinas Kesehatan PPU dr Jansje Grace Makisura mengatakan, hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kuman ditemukan pada dua sampel makanan yang disajikan kepada siswa.

“Ada dua sampel yang ditemukan mengandung kuman, yaitu pada puding dan satu makanan lainnya,” kata Grace, ditemui usai mengikuti Rapat Paripurna Istimewa Agenda Peringatan Hari Jadi Ke-24 PPU, Rabu (11/3).

Menurutnya, kontaminasi tersebut diduga terjadi karena makanan terlalu lama terpapar udara sebelum dikonsumsi siswa. “Kemungkinan memang tercemar karena agak lama di udara. Di udara saja kan kumannya banyak, jadi kemungkinan makanan itu tidak tertutup dengan baik,” ujarnya.

Ia menerangkan, sampel makanan tersebut sebelumnya diperiksa di laboratorium kesehatan di Samarinda, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur.

Pasca-kejadian tersebut, Diskes PPU juga telah melakukan pembinaan kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bertanggung jawab terhadap penyediaan makanan dalam program MBG.

Grace menjelaskan, operasional SPPG hingga kini masih dihentikan sementara sambil menunggu perbaikan sesuai rekomendasi dari Diskes.

“SPPG-nya belum buka. Nanti kalau mereka mau buka kembali harus berkolaborasi lagi dengan kami. Kami akan cek ulang apakah sudah siap atau belum,” jelasnya.

Salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah perbaikan pengelolaan limbah dan sampah di lokasi pengolahan makanan. “Mereka harus menjalankan sesuai rekomendasi kami,” katanya.

Selain itu, pihak pengelola juga diminta menunjuk pihak ketiga untuk penanganan limbah agar pengelolaannya lebih sesuai standar kesehatan.

Sebelum seluruh rekomendasi tersebut dipenuhi, layanan MBG tidak akan diperluas ke lebih banyak sekolah. “Untuk sementara masih dibatasi dulu sampai mereka menyelesaikan rekomendasi. Setelah itu baru bisa menambah sekolah penerima,” ulasnya.

Pembukaan kembali layanan juga akan melalui masa evaluasi sebelum akhirnya dinyatakan layak beroperasi.

Terkait kondisi siswa yang sempat mengalami gejala keracunan, Grace memastikan seluruhnya telah pulih pada hari yang sama. “Gejalanya berbeda-beda, ada yang muntah, diare, ada juga yang sesak napas. Biasanya sesak napas terjadi pada anak yang punya riwayat asma,” katanya.

Namun ia memastikan tidak ada siswa yang harus dirujuk ke rumah sakit. “Ada satu yang datang malam, tapi setelah diperiksa juga langsung pulang,” jelasnya.

Ia mendorong adanya pendekatan kepada orang tua siswa untuk memulihkan kepercayaan terhadap program MBG setelah kejadian tersebut.

“Pendekatan bukan hanya ke guru, tapi juga ke orang tua. Karena setelah kejadian itu banyak orang tua yang marah dan khawatir anaknya makan lagi,” pungkasnya. (*)

Editor : Dwi Restu A
#keracunan masal #Penajam Paser Utara (PPU) #Mbg