PENAJAM - Pemakaian air bersih di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) selama Ramadan 1447 Hijriah tahun 2026 mengalami peningkatan dibandingkan bulan-bulan biasa. Kenaikan konsumsi air tersebut dipicu oleh meningkatnya aktivitas masyarakat, terutama untuk kebutuhan ibadah.
Direktur Perusahaan Umum Daerah Air Minum Danum Taka (AMDT) Kabupaten PPU Abdul Rasyid mengatakan, lonjakan penggunaan air saat Ramadan merupakan kondisi yang terjadi hampir setiap tahun.
“Pemakaian air selama Ramadan seperti tahun-tahun sebelumnya pasti meningkat. Karena kebutuhan ibadah juga bertambah, sementara anak-anak juga masih sekolah sehingga aktivitas rumah tangga tetap tinggi,” ujarnya belum lama ditemui di kantor Bupati PPU.
Menurutnya, peningkatan penggunaan air tidak hanya terjadi di rumah-rumah ibadah, tetapi juga di rumah tangga masyarakat yang memiliki sambungan rumah.
Secara rata-rata, konsumsi air bersih masyarakat naik sekitar lima meter kubik per rumah tangga setiap bulan. Jika pada bulan biasa penggunaan air rata-rata sekitar 10 meter kubik, maka selama Ramadan bisa mencapai sekitar 15 meter kubik per bulan.
Meski terjadi peningkatan konsumsi, pihaknya memastikan pasokan air bersih masih mampu dipenuhi. Kondisi curah hujan yang masih cukup tinggi saat ini turut membantu ketersediaan air baku.
“Penambahannya lumayan besar, tapi masih mampu kita suplai. Apalagi dengan curah hujan sekarang ini, kondisi air baku kita masih cukup baik,” katanya.
Namun demikian, pihaknya tetap mengantisipasi potensi penurunan ketersediaan air baku seiring prakiraan musim kemarau yang akan melanda Kalimantan Timur dalam beberapa bulan ke depan.
Ia menerangkan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memprediksi wilayah Kalimantan Timur akan mengalami kemarau panjang mulai April hingga Agustus 2026, dengan puncaknya pada pertengahan periode tersebut.
Untuk mengantisipasi hal itu, sejumlah langkah telah dilakukan, di antaranya pendalaman embung oleh dinas pekerjaan umum serta pengamanan sumber air baku oleh Balai Wilayah Sungai (BWS).
Selain itu, Perusda AMDT juga terus mengembangkan jaringan distribusi air bersih, termasuk memanfaatkan pasokan dari intake Sepaku yang baru diresmikan. Saat ini sekitar 400 sambungan rumah di wilayah Sepaku telah terpasang.
“Sebagian masyarakat di Sepaku sudah bisa memanfaatkan. Tapi memang kapasitasnya masih banyak yang belum terpakai karena keterbatasan anggaran,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi ekonomi masyarakat juga mempengaruhi percepatan pemasangan sambungan rumah baru karena adanya biaya nonair yang harus dibayar pelanggan.
Meski demikian, terdapat komitmen dari Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) untuk membantu sekitar 6.000 sambungan rumah bagi masyarakat. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban masyarakat dalam mendapatkan akses air bersih.
Saat ini, tim dari Otorita IKN bersama PDAM tengah melakukan survei lapangan untuk menentukan wilayah yang belum terlayani jaringan air bersih.
“Tim dari Otorita IKN dan PDAM sedang melakukan survei lapangan untuk menentukan kelurahan, gang, atau warga yang belum mendapatkan aliran air PDAM,” imbuhnya. (*)
Editor : Sukri Sikki