Oleh: Ahmad Maki
DERU mesin kendaraan beban berjenis diesel (truk) di Pelabuhan Kapal Feri Penajam menjadi latar suara yang konstan di kawasan itu. Namun, bagi pelancong maupun warga lokal, daya tarik utama pelabuhan di malam hari bukan hanya soal transportasi penyeberangan kendaraan maupun penumpang, melainkan "pujasera" di tribun kiri pintu gerbang pelabuhan dari arah Penajam menuju Kariangau, Balikpapan. Area ini menyatu dengan tempat transit kendaraan besar yang sedang bersiap (standby) mengantre masuk ke kapal.
Kawasan ini seolah menjadi oase bagi mereka yang mencari kehangatan di tengah semilir angin laut yang cukup menusuk tulang. Ada yang sekadar mengopi, berkumpul bercengkerama sambil bermain kartu. Bahkan ada yang membawa gitarnya sendiri untuk bernyanyi bersama rekan-rekannya.
Deretan warung yang berjejer rapi, lengkap dengan baliho bertuliskan "Buka 24 Jam", menjelma menjadi undangan terbuka bagi siapa saja yang ingin sekadar bersantai atau menunggu giliran kendaraannya masuk. Melalui baliho sederhana itu, tersaji perpaduan rasa yang kontras namun harmonis.
Baca Juga: Bongkar Rentetan Kasus Kriminal, Dari Penipuan Emas Palsu hingga Jaringan Narkoba di Sepaku
Aisiyah, gadis dari Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, yang menjadi pramusaji di salah satu warung "Banyuwangi 2", tampak mondar-mandir melayani pelanggan yang datang silih berganti.
"Saya hanya karyawan di sini. Mulai bekerja Desember kemarin. Jaga warungnya mulai malam tembus pagi, nanti gantian sama yang punya," kata Aisiyah, Senin (13/4/2026).
Baca Juga: KONI Balikpapan Bakal Maksimalkan Persiapan Menuju Porprov Kaltim di Paser
Di depan mejaku, tersaji dari tangan Aisiyah secangkir kopi susu, jeruk panas, dan kapucino dingin; minuman favorit yang tetap ingin tampil segar di tengah tongkrongan malam.
Tidak hanya minuman, aroma penggorengan dari dapur warung-warung ini senantiasa menggoda selera. Mulai dari camilan ringan seperti tela-tela singkong, hingga makanan berat yang siap mengisi perut para pengunjung.
Area itu bukan sekadar tempat makan, a adalah titik temu. Batas antara Penajam dan Balikpapan seolah melebur.
"Di sini tidak ada jam mati. Mau jam dua pagi atau jam lima subuh, apalagi kalau sudah malam Minggu," kata Iqbal dan Yerri, pengunjung setia yang rutin singgah di warung itu.
Di sisi Penajam, kehidupan tetap berdenyut lewat kepulan asap kopi dan tawa renyah di warung-warung pinggir pelabuhan ini. Selama feri masih berlayar, warung-warung ini akan tetap setia menjadi saksi bisu setiap perjalanan yang dimulai maupun berakhir. (*)
Editor : Sukri Sikki