KALTIMPOST.ID, PENAJAM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencatat peningkatan intensitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau.
Dalam sehari, jumlah titik api yang harus ditangani tim pemadam di lapangan bahkan sempat menyentuh hingga delapan titik lokasi.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten PPU, Nurlaila mengungkapkan, total luasan area yang terbakar dari delapan titik kejadian dalam sehari tersebut mencapai kurang lebih 17 hektare. Petugas harus menguras energi untuk memadamkan serta melakukan proses pendinginan (clean up) di seluruh titik.
Baca Juga: Langkah Strategis Pelayanan Pertanian di Kutai Barat, Wabup Resmikan Kantor BPP Mook Manaar Bulatn
"Semua kami lakukan penanganan, ada yang langsung clear, ada juga yang membutuhkan proses clean up atau pendinginan lebih lanjut," ujar Nurlaila, Rabu (26/8).
Menurutnya, durasi penanganan Karhutla di lapangan sangat bergantung pada jenis material yang terbakar. Kebakaran pada lahan mineral yang hanya ditumbuhi rumput atau semak belukar relatif lebih cepat diatasi. Namun, proses pemadaman menjadi jauh lebih rumit ketika material yang terbakar berupa tumpukan kayu-kayu besar sisa penebangan warga.
Tumpukan kayu tersebut menghalangi air menembus area bawah tanah, sehingga menyisakan hawa panas dan bara api yang tersembunyi.
Baca Juga: Curi Motor Kurir saat Istirahat di Masjid Sangatta, Terduga Pelaku Akhirnya Ditangkap
"Saat cuaca kembali terik dan diterpa angin kencang pada hari berikutnya, bara tersebut berpotensi besar memicu timbulnya titik api baru. Kondisi itu menuntut petugas membongkar tumpukan batang kayu secara manual untuk memastikan seluruh bara benar-benar padam," jelasnya.
Tantangan serupa juga ditemui pada area lahan gambut, seperti di Kelurahan Gunung Steleng. Sifat lahan gambut yang semakin kering akan menyimpan hawa panas di bawah permukaan dan menjalar tanpa terlihat. Hal itu membutuhkan penanganan khusus serta durasi waktu yang jauh lebih lama dibanding lahan mineral biasa.
Situasi makin kompleks saat Karhutla melanda area luas yang minim sumber air. Tim BPBD harus bergantung pada suplai armada mobil tangki yang membutuhkan durasi waktu cukup lama untuk bolak-balik pengisian air.
Baca Juga: Jalan Indonesia Punya Banyak Karakter, Apa Kelebihan Mitsubishi Destinator?
"Kendalanya jika lahan gambut atau tumpukan kayu yang terbakar tidak memiliki sumber air di sekitarnya. Otomatis kita butuh support banyak mobil tangki. Durasi perjalanan dan pengisian air itu memakan waktu, sementara api di lokasi terus menyebar," katanya.
Contoh kasus tersebut terjadi saat kebakaran melanda kawasan Kelurahan Riko. Untuk mengatasi krisis pasokan air, BPBD mendapat dukungan penuh dari armada tangki berkapasitas 9.000 liter milik pihak bandara VVIP.
"Beruntung, terdapat embung air penampungan berjarak sekitar satu kilometer dari lokasi kejadian yang dapat dimanfaatkan untuk mobilitas pengisian air," sebutnya. (*)
Editor : Dwi Restu A