KALTIMPOST.ID - Rencana menambah jumlah peserta Piala Dunia 2030 menjadi 64 negara memunculkan perdebatan di kalangan petinggi sepak bola dunia. Gagasan tersebut disampaikan Presiden FIFA, Gianni Infantino, dan langsung menuai respons beragam.
Infantino mengatakan usulan tersebut akan dibahas lebih lanjut setelah Piala Dunia 2026 berakhir. Menurutnya, FIFA akan mengkaji rencana itu melalui komite-komite terkait sebelum mengambil keputusan.
“Itu adalah hal yang akan ditinjau dan dibahas di komite-komite terkait setelah Piala Dunia 2026 ini berakhir,” ujar Infantino dalam wawancara dengan media Swiss, Blue Sport.
Baca Juga: Paser Krisis 300 Guru, Disdikbud Ajukan Tambahan 250 Tenaga PJLP
Presiden FIFA itu menilai penambahan jumlah peserta menjadi 64 tim merupakan langkah yang layak dipertimbangkan. Alasannya, kualitas sepak bola di berbagai negara terus meningkat dari tahun ke tahun.
Selain itu, Infantino menilai kesempatan tampil di Piala Dunia dapat menjadi motivasi bagi negara-negara yang selama ini sulit menembus putaran final.
“Karena bisa dilihat bahwa kualitas tim di setiap negara semakin tinggi dan terus meningkat. Jika negara-negara kecil tidak diberi kesempatan tampil di Piala Dunia, mereka akan kehilangan motivasi untuk berkembang,” katanya.
Namun, usulan tersebut mendapat penolakan dari sejumlah pemimpin konfederasi sepak bola dunia.
Presiden Confederation of North, Central America and Caribbean Association Football, Victor Montagliani, menjadi salah satu pihak yang secara terbuka mengkritik gagasan tersebut.
Menurutnya, penambahan jumlah peserta tidak hanya berdampak pada kualitas turnamen, tetapi juga berpotensi memengaruhi ekosistem sepak bola secara keseluruhan.
“Saya tidak yakin bahwa menambah peserta Piala Dunia menjadi 64 tim merupakan langkah yang tepat bagi turnamen itu sendiri maupun ekosistem sepak bola yang lebih luas. Mulai dari tim nasional hingga kompetisi klub, liga, dan para pemain,” ujarnya seperti dikutip ESPN.
Penolakan serupa datang dari Presiden Union of European Football Associations, Aleksander Čeferin. Dia menilai wacana tersebut tidak akan memberikan dampak positif, khususnya bagi sistem kualifikasi di kawasan Eropa.
“Itu bukanlah hal yang bagus untuk kualifikasi dari zona kami,” kata Ceferin.
Hingga kini, FIFA belum mengambil keputusan terkait usulan tersebut. Pembahasan lebih lanjut diperkirakan baru dilakukan setelah rangkaian Piala Dunia 2026 selesai digelar. (*)
Editor : Ery Supriyadi