KALTIMPOST.ID, Ketegangan antara UEFA dan FIFA kembali memuncak. UEFA bersiap menggelar rapat darurat guna merespons langkah Presiden FIFA, Gianni Infantino, yang berencana menjual sebagian saham pengelolaan Piala Dunia kepada pihak swasta melalui pembentukan anak perusahaan baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE).
Entitas baru ini dirancang untuk memegang seluruh kendali hak komersial turnamen, meliputi hak siar televisi, sponsor, penjualan tiket, hingga lisensi. FIFA menargetkan suntikan dana segar sebesar 4,2 miliar dollar AS (sekitar Rp75,6 triliun) dari investor luar dengan melepas sebagian kecil kepemilikan FFE, yang valuasinya diperkirakan mencapai 20 miliar dollar AS (sekitar Rp360 triliun). Lewat skema ini, FIFA mengklaim dana pengembangan sepak bola global bisa melesat hingga melampaui 10 miliar dollar AS (sekitar Rp180 triliun) dalam kurun empat tahun.
Iming-iming Ratusan Miliar dan Ancaman Potongan Dana
Guna memuluskan rencananya, FIFA telah menyurat ke 211 asosiasi anggotanya. Mereka menawarkan insentif dana bantuan hingga 40 juta dollar AS (setara Rp720 miliar) per negara yang bersedia mendukung proyek tersebut. Namun, tawaran ini datang bersama tenggat waktu ketat hingga 19 September 2026.
FIFA menegaskan bahwa federasi yang menolak tidak akan menikmati tambahan insentif tersebut. Jika proposal ini ditolak, FIFA akan tetap mengalirkan skema biasa melalui Program FIFA Forward 4.0, di mana tiap asosiasi hanya menerima dana standar sebesar 10 juta dollar AS (sekitar Rp180 miliar) per siklus mulai Januari 2027.
Kritik Keras UEFA dan Respon Antarkonfederasi
Langkah FIFA ini memicu gelombang penolakan. UEFA mengecam keras strategi penentuan tenggat waktu dan pemberian insentif tersebut yang dinilai memperlihatkan iktikad tidak transparan. Apalagi, mayoritas federasi termasuk FA (Inggris) justru baru mengetahui rencana penjualan 20 persen saham ini dari pemberitaan media.
Konsorsium investor swasta yang mengincar saham tersebut kabarnya dipimpin oleh Thrive Eternal, perusahaan milik Joshua Kushner yang merupakan ipar Ivanka Trump.
Penolakan senada tidak hanya datang dari Eropa. Konfederasi sepak bola dari Asia (AFC), Amerika Selatan (CONMEBOL), hingga Amerika Utara dan Tengah (CONCACAF) turut menyuarakan kekhawatiran serupa. Kendati demikian, UEFA mengakui bahwa memboikot atau menarik tim dari ajang Piala Dunia bukanlah pilihan realistis karena dampaknya yang terlalu besar terhadap finansial kompetisi.
Editor : Ilmidza