KALTIMPOST.ID, SAMARINDA-Cabang lomba Musabaqah Syarhil Qur'an (MSQ) dalam Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Nasional ke-30 berlangsung penuh semangat. Kegiatan itu digelar di Aula Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Samarinda, Rabu (10/9).
Syarhil Qur'an merupakan salah satu cabang kompetisi yang menguji tiga aspek utama. Yakni kemampuan terjemahan dan materi Al-Qur'an, retorika dalam menyampaikan isi kandungan ayat, serta keindahan tilawah.
“Tiga aspek yang dinilai meliputi terjemah dan materi Al-Qur'an, retorika, serta tilawah,” ujar Abdul Muid Nawawi, salah satu dewan hakim dari Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur'an (PTIQ) Jakarta saat ditemui di sela-sela acara.
Dalam cabang MSQ itu, peserta dituntut untuk bisa menyampaikan pesan Al-Qur'an dengan cara yang retoris, jelas, dan mengalir tanpa bantuan teks. Mereka juga diharapkan memiliki kemampuan dalam menjelaskan kandungan ayat secara ilmiah namun tetap singkat dan padat.
Ketiga aspek itu menambah tantangan tersendiri bagi peserta. Di mana keterampilan ceramah, karya tulis ilmiah, dan tilawah digabungkan dalam satu penampilan. “Itu adalah kombinasi unik karena selain tafsir dan tilawah. Di sana juga ada ceramah yang materinya disusun secara ilmiah. Namun, tidak sepanjang karya tulis ilmiah pada umumnya. Maksimal hanya empat halaman, tetapi harus akurat dan terperinci,” tambah Muid.
Pada hari kedua itu, sebanyak 13 peserta dari berbagai provinsi dijadwalkan tampil, meski ada kemungkinan satu peserta absen. Sehari sebelumnya, sebanyak 11 peserta sudah menampilkan kemampuan terbaik mereka di hadapan dewan hakim.
Dewan hakim yang berjumlah sembilan orang itu dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing fokus menilai aspek ceramah, tilawah, dan materi. Sebagai seorang dewan hakim berpengalaman, itu adalah kali keempat Abdul Muid Nawawi bertugas dalam MTQ Nasional, khususnya pada cabang syarhil Qur'an. “Pengalaman pertama saya menjadi hakim pada MTQ Nasional 2018 di Medan. Kemudian, tahun 2020 di Padang, tahun 2022 di Kalsel, dan tahun ini di Kaltim,” bebernya.
Muid menyampaikan pandangannya mengenai perkembangan syarhil Qur'an. Ia menilai bahwa kualitas peserta semakin meningkat dari tahun ke tahun. “Syarhil Qur'an saat ini semakin bagus. Kami tidak ingin peserta mengulang materi ceramah yang sudah pernah dibawakan di MTQ sebelumnya. Harus ada inovasi baru. Sehingga kualitas kompetisi terus berkembang,” tutupnya. (rey/pt/rom)
Editor : Romdani.