Ririn, begitu dia akrab disapa. Dara asal kota Tarakan ini memulai bisnis penjualan hijab ketika usianya masih beranjak usia 26 tahun, dan di 2024 sudah menginjak 31 tahun. Kepada Kaltim Post, dia menceritakan sedikit perjalanan karirnya.
Berawal dari kegemaran dan keinginan berdasarkan rasa, Ririn berhasil mengemasnya dengan baik. Betapa tidak, dulu sebelum dia membuka butik penjualan hijab, ternyata dia suka membeli baju, hijab, serta fashion yang disukainya.
“Karena mungkin suka kali ya. Aku; anaknya dari dulu suka jualan sekaligus juga suka berbelanja,” ujarnya kepada Kaltim Post, Rabu (2/10).
Meski latar belakang pendidikan Ririn tak fokus di dunia bisnis, namun hal tersebut tak menjadi patokan. Buktinya dia bisa. Dia lulus di Universitas Mulawarman Fakultas Kesehatan Masyarakat. Namun, beberapa materi yang didapatkan dibangku kuliah sedikit besarnya berdampak terhadap usahanya saat ini.
“Di kesehatan masyarakat saya juga jurusan promosi kesehatan. Jadi suka penyuluhan ke puskesmas atau masyarakat gitu. Jadi dari situ meskipun jualannya bukan tentang kesehatan tapi sedikit nyambung. Karena ada belajar market juga,” tutur Ririn.
Ketika lulus dari kuliah, Ririn membuat planning untuk membuka usaha. Pertama kali yang dipikirkan Ririn adalah modal. Dari mana dia bisa mendapat modal? Ya, dari bekerja. Selama setahun, uang gaji Ririn ketika bekerja di salah satu konter handphone harus disisihkan untuk ditabung. Sebab, fokus utamanya adalah membuka usaha.
“Mau enggak mau harus begitu. Jadi ya harus menjaga untuk tidak boros, karena uang gaji saya hampir seluruhnya di tabung untuk kemudian dijadikan modal awal membuka usaha,” katanya.
Setelah genap setahun, Ririn kemudian membuka usaha kecil-kecilan di Tarakan. Waktu itu, kondisi dunia sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana tidak, pada 2020 silam, dunia sedang dihebohkan kemunculan Covid-19. Ini cobaan pertama Ririn dalam memulai usahanya.
“Belum lama buka sudah dihadapkan Covid. Itu benar-benar menguras pikiran,” imbuhnya dengan nada serius.
Ririn pun memutar otak. Sebab, dirinya sudah mengukur bahwa terjadinya pandemi tentu akan mengurangi konsumen dalam membeli produk hijab yang dijual.
“Lalu, saya melihat kebutuhan masyarakat saat itu apa? Salah satunya adalah masker. Oleh karena itu, sembari menjual hijab, beberapa kebutuhan tentang pencegahan covid pun dijual. Tujuannya tidak lain agar butik yang baru saya buka tidak tutup dikarenakan pandemi,” kata putri dari pasangan Marzuki (almarhum) dan Suryati.
Upaya tersebut berbuah hasil. Keuangan Ririn berjalan normal meski sedikit terseok-seok. Lama kelamaan, akhirnya covid berhasil hilang. Pada saat itulah perkembangan butik Ririn berhasil meningkat.
Kembali ke soal rasa. Dalam menjual berbagai jenis pakaian dan hijab, Ririn lebih menyesuaikan dengan rasa dan kesukaan. Intinya, kata dia, jenis hijab dan pakaian yang simpel dan tidak berlebihan.
“Saya memilih hijab dan baju yang simpel aja. Sehingga kalau dipandang kurang lebih terlihat elegan. Jadi memang saya ingin membuka butik jualan ini sesuai dengan selera gitu. Menyesuaikan keinginan dan selera gitu, mas,” imbuhnya.
Beruntungnya, selera Ririn ternyata pun dimiliki oleh orang lain. Buktinya, pada 2023 lalu, dirinya telah membuka cabang butik baru di Samarinda. Yakni di kawasan Mal Lembuswana, toko Zaskiasungkar Samarinda. Minggu (29/9) grand opening, dihadiri artis Zaskia Sungkar.
“Alhamdulilah setelah jalan 8 bulan akhirnya grand opening. Ya begitu mas. Ternyata selera yang saya inginkan bukan hanya ada di saya saja, tapi orang juga mengalaminya,” ujarnya.
Kata Ririn untuk anak muda, jangan pernah insecure terhadap apa yang ada di dalam diri dan pikiran. Jika ada peluang, segera dicoba. Sebab, dari mencoba itulah ada proses yang akan diketahui.
“Gagal dan kendala itu pasti akan dihadapi, karena itu bagian dari proses. Kemudian ekspektasi yang tidak sesuai pun akan ditemui, namun planning bisa mengatasi semua permasalahan tersebut. Kembali yang terpenting adalah berani mencoba,” tukasnya mengakhiri.
Editor : Uways Alqadrie