Dorongan kuat dari Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda, terutama dari wali kota dan Camat Samarinda Ulu Sujono yang berupaya mewujudkan kota yang lebih ramah dan inklusif bagi seluruh warganya.
Sujono menerangkan pelayanan kepada penyandang disabilitas di kecamatan ini tidak membedakan antara mereka dengan warga lainnya. “Kami berkomitmen mulai 2025, seluruh fasilitas di wilayah kami akan lebih mudah diakses oleh teman-teman difabel," jelasnya.
Untuk itu, mereka memastikan bahwa sarana dan prasarana publik yang ada dapat diakses oleh semua orang, termasuk yang berkebutuhan khusus. "Kami berusaha agar semua fasilitas yang ada di Samarinda Ulu, baik itu gedung atau bangunan publik, sudah dirancang untuk ramah terhadap disabilitas. Pada 2025, seluruh fasilitas di wilayah kami akan lebih mudah diakses oleh teman-teman difabel," sebutnya.
Program ramah disabilitas ini tidak hanya sebatas pada pembangunan infrastruktur. Berbagai upaya lain juga dilakukan untuk mendorong partisipasi aktif penyandang disabilitas dalam berbagai sektor kehidupan, terutama dalam dunia usaha.
Salah satunya adalah dukungan kepada para pengusaha lokal yang memperkerjakan penyandang disabilitas. Sujono memberikan contoh nyata, seperti usaha batik di Kelurahan Bukit Pinang yang mempekerjakan beberapa karyawan dengan disabilitas.
"Desi seorang pengusaha batik di kelurahan saya sudah merekrut teman-teman difabel. Mereka saat ini bahkan sedang mencari lebih banyak lagi orang dengan disabilitas yang ingin berkarya," ungkapnya.
Lebih jauh, Sujono menjelaskan bahwa program inklusif ini sudah berjalan sejak beberapa tahun lalu. "Program ini sudah dimulai sejak 2020, sejalan dengan visi wali kota yang ingin memastikan bahwa difabel juga mendapatkan hak-hak mereka, termasuk kesempatan untuk bekerja dan berkontribusi dalam pembangunan kota," katanya.
Bahkan, di Dinas Catatan Sipil Samarinda, sejak 2021, para penyandang disabilitas diberikan kesempatan untuk bekerja sebagai kurir dalam pengantaran dokumen kependudukan.
Selain itu, pelayanan digital juga menjadi fokus penting dalam memastikan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas. "Saat ini, kami juga menyediakan ruang khusus di setiap kelurahan yang dilengkapi dengan fasilitas digital untuk memudahkan warga difabel mengakses layanan administrasi. Kami memberikan panduan dan bantuan bagi mereka yang kesulitan menggunakan teknologi," jelas Sujono.
Namun, pembangunan kecamatan inklusif di Samarinda Ulu tidak hanya berfokus pada fasilitas fisik dan pelayanan. Kesadaran masyarakat juga menjadi hal yang sangat penting. Camat Sujono mengungkapkan bahwa berbagai lembaga kepemudaan dan organisasi sosial di Samarinda Ulu telah mengedukasi generasi muda untuk menghilangkan stigma terhadap penyandang disabilitas.
"Kami terus mengedukasi anak muda melalui organisasi seperti Karang Taruna, remaja masjid, agar mereka bisa lebih menghargai teman-teman difabel. Tidak ada perbedaan dalam perlakuan kami terhadap sesama, saya rasa sebagian masyarakat juga sudah lumayan paham mengenai penghormatan sesama manusia tanpa pandang bulu," ujarnya.
Meskipun demikian, Sujono menyadari bahwa masih banyak PR yang harus dilakukan untuk menjadikan Samarinda Ulu sepenuhnya inklusif. "Kami berharap program ini bisa menjadi contoh bagi kecamatan lain atau bahkan daerah lain. Selama ini, kami terus berupaya agar pelayanan publik di kecamatan kami dapat melayani semua warga dengan adil dan setara, tanpa membedakan siapa mereka," kata Sujono.
Samarinda Ulu kini berharap bisa menjadi model bagi daerah lainnya dalam menciptakan kota yang lebih adil dan ramah bagi semua, memastikan bahwa setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi dan berkembang dalam masyarakat.
Editor : Uways Alqadrie