SAMARINDA – Mengatasi potensi minimnya angka partisipasi masyarakat di Pilkada Serentak 2024 menjadi pekerjaan rumah (PR) berat bagi semua pihak, tidak terkecuali Pemkot Samarinda. Pasalnya, pada Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Samarinda 2020 lalu, angka keikutsertaan pemilih di Kota Tepian hanya berkisar 55 persen.
Kondisi itu membuat Samarinda menempati posisi paling buncit dibandingkan 10 kabupaten/kota se-Kaltim. Wali Kota Samarinda, Andi Harun terus mengkampanyekan agar warga berbondong-bondong menggunakan hak pilihnya di Pilkada Kota Samarinda pada 27 November mendatang.
Dia menyebut, warga Samarinda harus malu, sejak pemilu legislatif dan presiden, Samarinda belum pernah menjadi kota/kabupaten dengan partisipan tertinggi di 10 kabupaten/kota se-Kaltim.
“Padahal, Samarinda berkedudukan sebagai ibu kota provinsi, namun angka partisipannya sangat kecil. Makanya ayo semua bergerak," ucap Andi Harun kepada para pejabat FKPD dan peserta lain yang hadir di sela peresmian kembali GOR Segiri, Senin (25/11).
Dia mengajak semua yang hadir untuk menggerakkan semua sumber daya dari keluarga, teman, hingga organisasi di Pilkada Samarinda yang diadakan 27 November mendatang. Dengan harapan, Samarinda bisa menjadi kota dengan partisipan tertinggi di Kaltim.
"Pada semua perhelatan Samarinda belum pernah sekalipun menjadi yang tertinggi pemilihnya," tambahnya.
Andi Harun juga mengimbau agar semua yang memiliki kolega maupun jabatan bisa memobilisasi agar partisipasi di Pilkada ini meningkat. "Suksesnya pilkada dari kita semua," tegasnya.
Selain itu, dia berpesan kepada para Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk menjaga netralitas, karena ini juga merupakan pertaruhan karir mereka. Andi Harun menyinggung ada tiga ASN yang sempat diperiksa karena mendaftarkan diri sebagai calon wali kota maupun calon wakil wali kota beberapa waktu lalu.
“Ini juga sudah kami sampaikan dalam upacara, agar ASN menjaga netralitas-nya,” pungkasnya. (*)
editor: sukri sikki
Editor : Sukri Sikki