SAMARINDA - Dalam suasana khidmat peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-65 Kota Samarinda, tradisi ziarah ke Makam La Mohang Daeng Mangkona, di Kecamatan Samarinda Seberang kembali digelar. Uniknya, tahun ini, ziarah tersebut diwarnai dengan sajian istimewa, yakni bubur peca, kuliner khas Samarinda yang kian dikenal luas.
Bubur peca, hidangan berkuah santan dengan cita rasa gurih dan sedikit pedas, telah lama menjadi bagian dari tradisi masyarakat Samarinda Seberang. Tak hanya lezat, bubur peca juga memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi. Melihat potensi tersebut, Pemerintah Kota Samarinda melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) telah mengusulkan bubur peca sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
"Proses pengusulan WBTB memang cukup panjang. Sejak tahun lalu, kami telah melakukan berbagai upaya seperti menggelar workshop, menerbitkan buku tentang bubur peca, dan membuat video dokumentasi," ujar Barlin Hady Kesuma, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Samarinda, Jumat (24/1).
Menurut Barlin, bubur peca sangat layak menyandang status WBTB. Selain memiliki rasa yang khas dan proses pembuatan yang unik, bubur peca juga memiliki nilai sosial yang tinggi. Hidangan ini menjadi simbol persatuan dan keakraban masyarakat Samarinda.
"Bubur peca ini dicetuskan sebagai makanan berbuka puasa di Masjid Shirathal Mustaqiem sekitar tahun 60-an. Resepnya diwariskan secara turun-temurun dan hingga kini masih dipertahankan keasliannya," ucapnya, ditemui di sela kegiatan kunjungan dalam rangkaian HUT Kota Samarinda dan Pemkot Samarinda.
Bubur peca bukan hanya sekedar makanan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya Kota Samarinda. Hidangan ini memiliki nilai sejarah dan sosial yang tinggi. Selain itu, bubur peca juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk wisata kuliner yang menarik.
"Ke depannya, kami akan mengadakan workshop melibatkan para chef hotel, agar bubur peca ini bisa dikenalkan kepada wisatawan yang datang ke Samarinda," pungkasnya.
Sebagai informasi, Bubur Peca khas Samarinda Seberang ini biasanya hanya ditemukan saat Ramadan. Sajian ini dapat dinikmati masyarakat, sebagai hidangan berbuka puasa di Masjid Shiratal Mustaqim, kecamatan Samarinda Seberang.
DENNY SAPUTRA
@dennysaputr46
Editor : Muhammad Ridhuan