KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Bulan Ramadhan selalu membawa suasana yang khas dan penuh berkah. Salah satu tradisi yang tak pernah absen di Samarinda adalah lomba bedug.
Perlombaan ini bukan hanya ajang unjuk kebolehan menabuh bedug, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan semangat menyambut bulan yang suci ini.
Setiap tahun, berbagai komunitas, masjid, hingga mengeluarkan kreativitasnya, dengan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa.
Mereka datang dengan semangat tinggi, mengenakan seragam serasi, dan membawa bedug yang telah dihias dengan berbagai motif islami.
Ketukan demi ketukan dipadukan dengan ritme khas yang menggema. Penonton pun ikut larut dalam suasana, memberikan semangat kepada peserta favorit mereka. Tak jarang, sorak-sorai penonton menambah semarak perlombaan.
Febri, koordinator Kelompok Irla Fathul Amin Perum Sambutan Asri, menjadi satu peserta yang cukup membuat penonton takjub.
Bedug yang dibuatnya bersama keluarga Irla Fathul Amin itu disponsori oleh warga sekitar. Totalnya diperkirakan mencapai Rp 4-5 juta. Sebuah gajah besar diikuti hiasan cerah di tubuh hewan itu memberikan daya tarik tersendiri.
"Kami usung konsep gajah itu harus dilindungi, karena memang hewan ini dilindungi," ujarnya. Pihaknya optimistis akan meraih juara terbaik. Namun jika tidak pun tak jadi masalah baginya.
"Yang penting anak-anak Irla kami bisa menyalurkan hobi dan kreativitasnya," pungkasnya. Lomba bedug di Jalan Juanda itu berlangsung ramai, warga berbondong-bondong mengabadikan momen tahunan tersebut bersama keluarga, kolega, dan teman terdekatnya. (*)
Editor : Almasrifah