KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Pembangunan rumah sakit baru bukan cuma soal beton dan besi.
Bagi Pemkot Samarinda, proyek RSUD Inche Abdoel (IA) Moeis yang akan digeber akhir tahun ini adalah investasi jangka panjang untuk layanan kesehatan yang lebih bermutu dan profesional.
Skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU) yang dikembangkan itu tak hanya menyuntikkan dana besar, juga membawa masuk pengalaman kelas dunia lewat transfer knowledge.
Proyek senilai Rp 740 miliar itu akan menggandeng konsorsium Plenary Asia-Aspen Medical, dua entitas yang sudah malang melintang di sektor pelayanan kesehatan global.
Nama rumah sakit pun akan ikut berubah menjadi RSUD IA Moeis Managed by Plenary Asia-Aspen Medical, mencerminkan pola kolaborasi pengelolaan jangka panjang.
“Yang kami kejar bukan cuma gedung baru. Tapi bagaimana sistem rumah sakit kita bisa berkembang, profesional, dan bisa menyamai standar internasional,” tegas Direktur RSUD IA Moeis dr Osa Rafshodia.
Proyek itu akan dimulai setelah penandatanganan kerja sama antara Pemkot Samarinda dan pihak investor yang direncanakan pada akhir Oktober 2025.
Dua bulan setelah kontrak diteken, pembangunan fisik akan langsung dimulai dan ditargetkan rampung dalam 18 bulan. Estimasi pemindahan layanan dari bangunan lama ke gedung baru adalah Agustus 2027.
Dalam tahap awal, konsorsium akan menyuntikkan investasi senilai 15 juta dolar AS atau sekitar Rp 230 miliar—sekitar 30 persen dari total proyek. Dana tahap dua menyusul dua bulan kemudian.
Tak tanggung-tanggung, empat tower akan dibangun sekaligus dan langsung dikelola pihak konsorsium.
Diakuinya, investor tak cuma bangun gedung lalu pergi. Mereka terlibat langsung dalam operasional. “Artinya ada proses pelatihan, ada alih teknologi, sistem IT, manajemen pelayanan yang semuanya akan dibagikan," kata Osa.
“Bahkan tim dari Australia kemungkinan akan bekerja di sini selama enam bulan. Begitu juga tim dari Samarinda akan menjajal RS lain yang berada di bawah konsorsium itu,” sambungnya.
Saat ini, proses negosiasi teknis antara Pemkot dan konsorsium sedang berlangsung. Hal itu mencakup detail skema kerja, hak dan kewajiban masing-masing pihak, serta penentuan mekanisme investasi.
"Ya rentan waktunya dari April ini hingga Oktober mendatang,” singkatnya.
Dia menjamin, selama proses konstruksi, RSUD IA Moeis tetap akan beroperasi seperti biasa di lokasi lama. Bahwa pelayanan tidak terganggu dan akan terus dievaluasi.
“Kami sedang menyiapkan masa depan layanan kesehatan yang lebih unggul. Gedung itu penting, tapi sistem kerja dan kemampuan SDM yang akan menentukan,” pungkasnya.
Editor : Dwi Restu A