KALTIMPOST.ID, Malam sudah larut ketika suara gaduh terdengar dari Jalan Selamet Riyadi, Kelurahan Karang Asam Ilir, Kecamatan Sungai Kunjang.
Bukan karena keributan warga, tapi karena seekor ular phyton raksasa yang nyelonong ke permukiman, tepatnya bergelung di pagar sebuah warung soto, Sabtu (24/5/2025).
Ya, seekor ular sepanjang 5,5 meter bikin geger warga yang masih terjaga. Bayangkan saja, hewan melata sebesar itu melilit santai di pagar warung.
Tanpa diundang, dia datang. Untungnya, panggilan darurat cepat direspons.
"Butuh waktu sekitar 40 menit untuk evakuasinya. Kami datang dari Posko 3 dan 4, dibantu juga relawan," kata Bambang Heriyadi, Danpos 4 Sungai Kunjang, Minggu (25/5).
Begitu tim tiba, mereka langsung berjibaku. Ular berada di posisi yang cukup sulit dijangkau. Posisinya di pagar, persis di sebelah rumah berdinding beton yang tak punya sekat. Kalau ular itu sempat masuk, evakuasi bisa jauh lebih rumit.
"Kalau dia sudah masuk ke dalam dinding, wah, bisa repot. Alhamdulillah, kita datang tepat waktu," ujarnya.
Malam itu, bukan cuma tenaga yang diuji. Tapi juga kesabaran.
Bagi para petugas Damkar, ini bukan soal nyali, karena sudah terbiasa berhadapan dengan api dan hewan liar. Tapi ular sebesar itu tetap saja menyita energi ekstra.
"Evakuasi kayak main tarik tambang. Ular narik ke sana, kita tarik ke sini. Dia sempat melilit kuat di kayu dan benda lain, jadi kami harus tepuk-tepuk badannya dulu biar dia lepas," beber Bambang.
Ular akhirnya berhasil diamankan, sekitar pukul 00.20 Wita. Kondisinya sehat, tapi agresif. Itu sebabnya Bambang yakin ular tersebut bukan peliharaan warga.
"Kalau peliharaan biasanya lebih jinak. Ini benar-benar ngelawan. Siapa juga yang berani pelihara ular sebesar itu?" katanya.
Bambang menduga ular keluar dari sarangnya untuk mencari tempat kering atau mangsa. Apalagi, Samarinda beberapa waktu terakhir dilanda banjir.
"Ular juga nggak betah terus-terusan di air. Ada batasnya. Mungkin itu yang bikin dia keluar dan nyasar ke warung," jelasnya.
Evakuasi ular seperti ini, kata Bambang, bukan kejadian langka. Tapi setiap momen selalu punya tantangan dan cerita sendiri.
Editor : Hernawati