KALTIMPOST.ID-Banjir kembali merendam sejumlah kawasan di Samarinda dalam beberapa pekan terakhir.
Namun Wali Kota Samarinda Andi Harun menegaskan persoalan itu tak bisa terus-menerus dibebankan hanya pada pemerintah kota.
Menurutnya, banjir yang terjadi bukan semata akibat cuaca ekstrem dan pasang Sungai Mahakam, tapi juga merupakan kiriman dari daerah sekitar.
“Samarinda bukan satu-satunya yang banjir. Kukar, Mahulu, Balikpapan, Bontang, hingga Berau juga terdampak. Tapi kenapa hanya Samarinda yang ramai disorot?” katanya, ditemui setelah memungut sampah dengan kapal ketinting, Sabtu (31/5).
Ia menyindir dukungan dari Pemprov Kaltim yang seharusnya bisa lebih banyak lagi perannya dan menyebut penanganan banjir perlu pendekatan regional, bukan ego sektoral.
“Sudah waktunya kita duduk bersama lintas kabupaten/kota. Jangan banjir ini dibiarkan jadi urusan auto-pilot masing-masing daerah,” tegasnya.
Andi menyebut, ada banyak variabel penyebab banjir. Mulai tambang, perkebunan, sampai proyek pengupasan lahan yang masih saja berlangsung di sekitar Samarinda.
“Kami bersihkan parit, tapi kalau aktivitas tambang di hulu terus mengiris tanah, ya sedimentasi tetap jalan,” sindirnya.
Ia menyayangkan kebijakan pemberian izin tambang dan pengupasan lahan yang masih longgar. Padahal RTRW Samarinda sudah menyatakan zona bebas tambang per 2026.
“Yang beri izin bukan kami. Rekomendasi pun bukan di kota. Itu di provinsi dan pusat. Jadi tolong lebih selektif, pertimbangkan ekosistem kita,” harapnya.
Andi menyoroti rendahnya kepedulian warga terhadap sampah. Ia menyebut, parit mampet bukan hanya urusan teknis, tapi juga soal budaya membuang sampah sembarangan.
“Jangan cuma ramai di media sosial, giliran gotong royong malah nggak kelihatan orangnya,” cetusnya.
Baca Juga: Semakin Unggul dalam Layanan Ortopedi, Mayapada Hadirkan Hospital Teknologi Bedah Robotik
Meski demikian, pemkot memastikan program penanganan banjir tetap berjalan. Dia menegaskan Pemkot Samarinda tidak menyerah mengatasi banjir.
“Hampir tiga tahun terakhir, kondisi relatif aman. Hanya karena ada anomali lalu digeneralisasi seolah program gagal, itu tidak adil,” singkatnya.
Ia mengajak semua pihak yang kritis untuk terlibat secara konstruktif. “Kalau ada ide, program, atau solusi teknis, ayo kita bahas. Undang terbuka, hadirkan media, biar rakyat bisa lihat bahwa kita serius menyusun kebijakan bersama demi masa depan lingkungan kita,” pungkasnya. (rd)
DENNY SAPUTRA
@dennysaputra46
Editor : Romdani.