Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Sakit Hati Dibalas dengan Aksi Keji di Samarinda Seberang, Begini Kronologi Peristiwa Keributan Saudara Ipar

Eko Pralistio • Selasa, 8 Juli 2025 | 10:56 WIB
KARENA KESAL: Motif TA membuat kericuhan di Samarinda Seberang lantaran tak terima keluarganya direndahkan. (IST)
KARENA KESAL: Motif TA membuat kericuhan di Samarinda Seberang lantaran tak terima keluarganya direndahkan. (IST)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA—Emosi meledak seperti kompor gas bocor. Hanya karena adik kandung merasa dihina, seorang pemuda berinisial Taufik (25) nekat mengejar kakak iparnya sendiri dengan sebilah badik, Rabu pagi (2/7) di depan sebuah toko boneka di Jalan Pattimura, Kelurahan Tenun, Samarinda Seberang.

Kejadian ini bermula sekitar pukul 09.30 Wita, saat korban Abdul Salam (48) hendak pulang ke rumah. Tiba-tiba, dari balik keramaian, pelaku muncul dan menghadangnya.

Belum sempat salam dilontarkan, makian justru yang keluar dari mulutnya. Lebih menegangkan, pelaku mencabut badik dari pinggang, dan mengacungkannya ke korban.

Korban panik, nyawa seolah di ujung tanduk, ia berlari menyelamatkan diri ke arah rombong siomay di tepi jalan. Adegan kejar-kejaran terjadi.

Korban berputar-putar menghindar, hingga rombong pedagang siomay roboh akibat insiden itu.

Warga yang menyaksikan kejadian tersebut langsung berhamburan membantu korban. Sementara si pelaku memilih kabur, meninggalkan lokasi begitu saja.

Tak terima atas aksi yang nyaris mengancam nyawanya, korban melaporkan insiden tersebut ke Polsek Samarinda Seberang.

"Kami menerima laporan dugaan pengancaman dengan senjata tajam. Setelah itu langsung dilakukan penyelidikan dan pencarian pelaku," terang Kapolsek Samarinda Seberang AKP Baihaki.

Tim opsnal Polsek Samarinda Seberang meringkus pelaku di sebuah gang kecil di Jalan Bung Tomo, Gang Syukur, Kelurahan Baqa, Samarinda Seberang.

"Pelaku diamankan bersama barang bukti sebilah badik lengkap dengan sarungnya. Dalam interogasi awal, ia mengakui semua perbuatannya," jelas Baihaki.

Motifnya ternyata soal harga diri. Pelaku merasa marah dan terhina lantaran adik kandungnya, yang juga istri korban, kerap direndahkan.

"Antara pelaku dan korban masih ada hubungan keluarga, ipar. Karena adiknya sering direndahkan, pelaku sakit hati dan meledak emosinya," kuncinya.

Editor : Dwi Restu A
#sakit hati #samarinda seberang #keributan