Pesan itu mengemuka dalam Lokakarya Transisi Energi Berkeadilan untuk Jurnalis, Kamis (7/8), di Hotel Ibis Samarinda. Kegiatan yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Samarinda bersama Yayasan Indonesia CERAH ini menjadi panggung diskusi mendalam tentang bagaimana jurnalisme bisa memainkan peran strategis dalam proses transisi energi yang adil dan inklusif.
“Transisi energi bukan cuma soal mengganti batu bara dengan panel surya atau turbin angin. Yang lebih penting adalah keberpihakan terhadap komunitas yang selama ini menanggung beban dari energi kotor,” tegas Wicaksono Gitawan, perwakilan dari Yayasan Indonesia CERAH.
Ia menyebutkan, kerja-kerja advokasi media dan komunitas akar rumput perlu diarahkan untuk menantang dominasi pertambangan. Sebab, dalam realitasnya, industri fosil tak sekadar menggerus lingkungan, tapi juga merampas ruang hidup masyarakat.
“Ini tentang merebut kembali masa depan. Transisi energi harus jadi alat untuk membangun tatanan yang lebih adil, bukan sekadar pergeseran teknologi,” lanjutnya.
Ketua AJI Samarinda Yuda Almerio menambahkan, jurnalis tak boleh sekadar jadi pengamat di tengah proses besar ini. Mereka punya tugas untuk menjaga agar transisi energi tidak menjadi tameng baru bagi eksploitasi yang lebih sistemik.
“Liputan investigatif, data yang kuat, dan keberpihakan pada korban harus jadi fondasi. Kita perlu menggali cerita dari warga yang terdampak langsung, bukan hanya mengutip pejabat atau industri,” ucap Yuda.
Dalam agenda tersebut, AJI juga membuka program beasiswa liputan transisi energi, mendorong lahirnya karya jurnalistik yang mengangkat isu keadilan iklim dari perspektif lokal. “Transisi energi yang adil artinya tidak meninggalkan siapa pun. Semua harus ikut dalam proses ini, terutama mereka yang paling terdampak,” tutup Yuda. (*)
Editor : Ismet Rifani