Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Disdag Samarinda Pantau Distribusi Beras, HET Dinilai Perlu Direvisi

Denny Saputra • Minggu, 24 Agustus 2025 | 13:52 WIB

STOK AMAN: Dinas Perdagangan Kota Samarinda memantau distribusi beras untuk menghindari kelangkaan stok dari distributor ke pengecer. (RAMA SIHOTANG/KP)
STOK AMAN: Dinas Perdagangan Kota Samarinda memantau distribusi beras untuk menghindari kelangkaan stok dari distributor ke pengecer. (RAMA SIHOTANG/KP)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA– Dinas Perdagangan (Disdag) Samarinda memastikan kondisi stok beras di pasaran masih aman hingga akhir tahun. Meski sempat muncul kekhawatiran akan kelangkaan, komunikasi intensif dengan distributor membuat pasokan tetap terjaga. Bahkan, jika sewaktu-waktu terjadi gejolak harga maupun distribusi, Pemkot menyiapkan langkah operasi pasar.

Kepala Disdag Samarinda Nurrahmani menuturkan pihaknya tidak hanya fokus pada jumlah stok, tetapi juga pada kesesuaian harga di tingkat pedagang. Menurutnya, perhitungan margin yang berlaku saat ini kerap tidak realistis dengan kondisi riil di lapangan. “Distributor harus paham betul keuntungan yang diperoleh dari produsen. Kalau margin hanya Rp 100 per kilogram, jelas tidak mungkin dijalankan. Jadi, ada wacana untuk menyesuaikan lagi HET (Harga Eceran Tertinggi), khususnya beras medium,” ungkapnya, Minggu (24/8).

Baca Juga: Butuh Intervensi Pemerintah untuk Kembalikan Harga Beras dan Ketersediannya

Nurrahmani menyebut HET tidak boleh hanya jadi angka formal yang sulit diterapkan. Yang lebih penting, kata dia, adalah ketersediaan stok dan mutu beras yang beredar di masyarakat. Karena, jika stok ada dan kualitasnya bagus, pedagang otomatis akan menyesuaikan harga. “Tidak mungkin menjual terlalu tinggi, karena pasti tidak laku. Jadi yang utama stok dulu, baru bicara harga,” jelasnya.

Saat ini HET beras medium di tingkat nasional dipatok Rp 13.500 per kilogram. Namun, fakta di lapangan, harga di tingkat distributor sudah menyentuh Rp 12.700 sebelum termasuk biaya kemasan, ongkos giling dan distribusi. “Kalau dihitung, sulit sekali dijual sesuai HET. Makanya akan kita komunikasikan lagi dengan provinsi dan pusat, supaya lebih realistis,” terangnya.

Baca Juga: Banyak Beredar Beras Oplosan, Begini Kata Kepala Cabang Bulog Paser, Intip Cara Bedakannya

Sementara itu, untuk beras premium, HET ditetapkan Rp 15.400 per kilogram. Nyatanya, harga jual di pasaran sudah berada di kisaran Rp 17.000. “Inilah yang jadi dilema. Regulasi bilang sekian, tapi kenyataan di lapangan berbeda. Karena itu, perlu dibicarakan ulang,” ujarnya. Meski begitu, pemerintah tetap mengandalkan beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga

Pangan) dari Bulog sebagai penyeimbang. SPHP memiliki aturan ketat, harga tidak boleh melebihi Rp 12.600 per kilogram di atas batas, serta pembelian masyarakat dibatasi maksimal dua karung (per karung 5 kg) per orang. “Bulog menjamin stok SPHP sampai Desember aman. Bahkan di pasar-pasar akan disiapkan pengecer khusus SPHP agar mudah dijangkau warga,” terang Nurrahmani.

Disdag menegaskan akan terus memantau perkembangan harga beras hingga akhir bulan. Jika ada gejolak, operasi pasar siap digelar dengan melibatkan kepolisian dan Bulog. “Beras ini berbeda dengan komoditas lain. Kalau cabai hilang, orang bisa ganti menu. Tapi kalau beras, itu kebutuhan pokok. Karena itu kami pastikan stok tetap aman dan harga tetap terkendali,” pungkasnya. (*)

Editor : Muhammad Rizki
#stok beras aman #het beras #stok beras cukup