KALTIMPOST.ID, SAMARINDA-Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda Iswandi menyoroti keterbatasan lahan pertanian di Samarinda yang dinilai tidak mampu menopang kebutuhan pangan masyarakat secara mandiri.
Dia menegaskan, satu-satunya cara untuk meningkatkan produktivitas adalah dengan memanfaatkan teknologi pertanian modern.
Menurut data Rencana Tata Wilayah (RTW), luas lahan pertanian di Samarinda hanya sekitar 1.234 hingga 1.300 hektare. Angka tersebut dinilai jauh dari cukup untuk mewujudkan swasembada pangan.
“Kalau dengan lahan segitu, mustahil bisa penuhi kebutuhan pangan sendiri. Makanya salah satu jalan keluarnya adalah dengan teknologi. Kalau biasanya setahun panen dua kali, dengan teknologi bisa jadi tiga atau empat kali, bahkan tiap tiga bulan sekali panen,” ujar Iswandi, Kamis (28/8).
Penggunaan pupuk modern, varietas unggul, hingga sistem pertanian berbasis teknologi, harus segera didorong. DPRD Samarinda juga memastikan akan memberikan dukungan penuh terhadap program Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan yang mengarah pada penerapan teknologi pertanian tersebut.
Selain soal pertanian, Iswandi juga menyinggung wacana transmigrasi besar-besaran dari pemerintah pusat yang rencananya akan memindahkan penduduk Jawa ke Kalimantan. Menurutnya, hal itu bisa menjadi tantangan tersendiri bagi Samarinda.
“Dengan jumlah penduduk yang meningkat, sementara lahan terbatas, risikonya terhadap ketahanan pangan juga semakin besar. Kalau di Samarinda saya rasa sudah tidak mungkin ada transmigrasi. Lahan kita sempit, tanah sudah mahal, mau ditempatkan di mana?” tegasnya.
Iswandi mencontohkan program transmigrasi terdahulu pernah dilakukan di Gunung Kapur, Lempake, hingga Makroman. Namun, dia menilai untuk saat ini Samarinda tidak lagi memiliki kapasitas lahan yang memadai.
Lebih jauh, Iswandi menyampaikan bahwa secara geografis, Samarinda justru lebih tepat untuk difokuskan sebagai pusat perdagangan dan jasa di Kaltim. Posisinya yang berada di tengah membuat Samarinda menjadi hub bagi daerah lain seperti Bontang, Kutim, Kukar, dan Balikpapan.
“Balikpapan punya pelabuhan laut dan udara, tapi pusat perputaran barang dan jasa tetap di Samarinda. Sejak dulu, bongkar muat agen-agen besar pasti di Samarinda. Jadi memang lebih cocok diarahkan sebagai kota dagang, jasa, dan pariwisata, yang saling mendukung,” pungkasnya. (*)
Editor : Dwi Restu A