KALTIMPOST.ID, Di tengah transformasi Kota Samarinda yang terus berkembang, Ibu Kota Kaltim ini punya sebuah bangunan tua penuh sejarah yang jadi saksi bisu perkembangan Islam di Kalimantan Timur. Dan merupakan masjid pertama di kota ini.
Masjid Shiratal Mustaqiem, berdiri di kawasan Samarinda Seberang. Bukan masjid biasa, Masjid Tua, sebutan masjidnya, ini menyimpan banyak kisah unik dan fakta menarik yang jarang diketahui.
Berikut adalah 7 fakta unik tentang Masjid Shiratal Mustaqiem yang membuatnya istimewa:
- Dibangun dengan Bantuan Nenek Misterius
Pembangunan masjid ini menyimpan sebuah kisah folklor yang melegenda. Konon, para pekerja sempat kesulitan mendirikan empat tiang utama masjid. Tiba-tiba, seorang nenek misterius datang menawarkan diri untuk membantu.
Keesokan harinya, keempat tiang sudah tegak berdiri. Para tetua percaya, nenek itu adalah penjelmaan dari ulama besar Syech Abdul Qadir Jailani.
- Menaranya Didanai Saudagar Belanda yang Mualaf
Menara masjid setinggi 21 meter ini memiliki cerita unik. Menaranya dibangun atas bantuan seorang saudagar Belanda kaya bernama Henry Dasen pada tahun 1901.
Tak lama setelah membantu pembangunan, Henry Dasen memeluk Islam dan berganti nama menjadi Muhammad Dasen.
- Perpaduan Arsitektur Unik dari Tiga Budaya
Desain masjid ini adalah perpaduan arsitektur Yaman dan Tiongkok, yang selaras dengan arsitektur tropis khas Kalimantan. Bahkan, menara masjid masih menggunakan ukiran Kutai pada lisplang dan pagarnya, mencerminkan kearifan lokal.
Atap masjid ini dibuat empat tingkatan yang melambangkan tahapan manusia untuk mencapai derajat tertinggi saat berjumpa dengan Tuhannya: tingkat syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat.
Desainnya yang bertingkat-tingkat juga memberikan kesan monumental dan menjaga sirkulasi udara di dalam bangunan.
- Dibuat Sepenuhnya dari Kayu Ulin
Masjid ini adalah bukti nyata ketangguhan arsitektur tradisional. Hampir seluruh strukturnya, mulai dari tiang, lantai, hingga menara, dibuat dari kayu ulin—kayu besi khas Kalimantan yang terkenal sangat kuat dan tahan lama.
Untuk menjaga keberlangsungan masjid ini, perbaikan masjid dilakukan berkala dan parsial tanpa mengubah struktur dan arsitektur asli dari masjid tersebut.
- Berperan Mengubah "Kampung Maksiat" Jadi "Kampung Masjid"
Lokasi di sekitar masjid dulunya dikenal sebagai tempat hiburan malam. Namun, seiring berkembangnya syiar Islam di Masjid Shiratal Mustaqiem, kawasan ini bertransformasi secara sosial. Perubahan ini membuat daerah tersebut dijuluki "Kampung Masjid" yang menjadi simbol perubahan spiritual dan sosial yang luar biasa.
- Memiliki Tradisi Bubur Pecak Khas Ramadan
Masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat tradisi. Salah satu tradisi yang masih bertahan adalah kegiatan membagikan "bubur peca'" saat bulan Ramadan—makanan khas masyarakat Bugis yang disediakan untuk jamaah dan musafir setiap hari menjelang berbuka puasa.
- Diakui sebagai Cagar Budaya Berprestasi Nasional
Masjid Shiratal Mustaqiem telah diakui sebagai bangunan cagar budaya oleh Pemerintah Kota Samarinda sejak 1992. Nilai sejarahnya juga terbukti dengan penghargaan yang diraihnya sebagai peserta terbaik kedua di Festival Masjid Bersejarah se-Indonesia pada tahun 2003.
Masjid yang Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah
Masjid Shiratal Mustaqiem adalah pengingat bahwa warisan leluhur bukan hanya untuk dikenang, tapi juga dijaga dan dilanjutkan. Ia menjadi mercusuar spiritual dan warisan yang membanggakan Samarinda, serta Indonesia.
Editor : Hernawati