Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Kasus DBD di Samarinda Capai 554, Satu Meninggal, Begini Tanggapan Dinas Kesehatan

M Hafiz Alfaruqi • Senin, 6 Oktober 2025 | 18:32 WIB
WASPADA: Ilustrasi Demam Berdarah Dengue. (Ilustrasi AI)
WASPADA: Ilustrasi Demam Berdarah Dengue. (Ilustrasi AI)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Diskes) Samarinda hingga awal Oktober 2025, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Tepian tercatat sudah mencapai 554 kasus.

Dari jumlah tersebut, satu orang dilaporkan meninggal pada Juli lalu. Meski terjadi peningkatan kasus dalam dua bulan terakhir, Diskes Samarinda memastikan kondisi tersebut masih terkendali dan tidak sampai menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB).

Kepala Dinas Kesehatan Samarinda Ismid Kusasih menegaskan, penanganan cepat di fasilitas kesehatan menjadi salah satu faktor penting sehingga angka kematian akibat DBD bisa ditekan. “Peningkatan kasus memang ada, tapi tidak sampai mengakibatkan KLB. Selain itu, kasus yang muncul bisa cepat ditangani sehingga tidak menimbulkan korban lebih banyak,” ujarnya, Senin (6/10).

Ismid menyebut, saat ini 26 puskesmas di Samarinda sudah dilengkapi dengan peralatan pemeriksaan cepat berupa rapid test, NS1 (Protein Non-struktural 1). Alat tersebut memudahkan tenaga medis mendeteksi dini gejala DBD, sehingga pasien dapat segera dirujuk ke rumah sakit bila menunjukkan tanda bahaya.

Selain layanan kesehatan, upaya pencegahan melalui vaksinasi juga telah dilakukan pada tahun lalu. Diskes Samarinda bersama Diskes Kaltim melaksanakan vaksinasi 2 dosis untuk pencegahan DBD di empat lokus puskesmas di Kecamatan Samrinda Utara, yaitu Sempaja, Bengkuring, Lempake, dan Sungai Siring, dengan sasaran 2.750 anak usia sekolah.

Namun, Ismid menegaskan bahwa kunci utama pemberantasan DBD tetap ada pada partisipasi masyarakat. “Penanggulangan DBD tidak bisa hanya mengandalkan fasilitas kesehatan. Harus ada kolaborasi dengan masyarakat. Minimal seminggu sekali dilakukan 3M Plus, yaitu menguras dan menyikat bak air, menutup rapat penampungan air, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi jadi sarang nyamuk,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan, perubahan cuaca dalam beberapa bulan terakhir menjadi faktor risiko yang perlu diwaspadai. Karena itu, warga diimbau menjaga imunitas tubuh sekaligus kebersihan lingkungan sekitar.

“Alhamdulillah program gotong royong di tingkat RT hasilnya Samarinda tidak pernah mengalami KLB DBD,” pungkasnya. (*)

Editor : Dwi Restu A
#samarinda #dbd #kejadian luar biaa