
Oleh:
Wiwik Setiawati
Kepala Balai Guru dan Tenaga Kependidikan Kaltim
HARI Pendidikan Nasional (Hardiknas) semestinya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Ia harus menjadi ruang refleksi yang jujur tentang ke mana arah pendidikan kita berjalan dan sejauh mana kualitasnya benar-benar meningkat. Dalam konteks itulah, kebijakan Hari Belajar Guru (HBG) yang dihadirkan melalui Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 5684/MDM.B1/HK.04.00/2025 patut dimaknai lebih dari sekadar program administratif.
Kebijakan ini menegaskan satu hal mendasar: guru bukan hanya pengajar, melainkan pembelajar sepanjang hayat. Gagasan ini sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menempatkan guru sebagai sosok yang terus bertumbuh, menuntun, dan menginspirasi. Pendidikan adalah proses memerdekakan manusia, dan kemerdekaan itu hanya mungkin tercapai jika guru tidak pernah berhenti belajar.
Namun, di tengah idealisme tersebut, muncul pertanyaan mendasar: sejauh mana Hari Belajar Guru telah benar-benar dihidupkan di daerah, khususnya di Kalimantan Timur?
Faktanya, hingga kini kebijakan tersebut belum sepenuhnya diterjemahkan ke dalam langkah operasional di tingkat daerah. Belum ada regulasi turunan yang secara spesifik mengatur implementasi Hari Belajar Guru di satuan pendidikan. Akibatnya, semangat kebijakan pusat belum menjelma menjadi gerakan nyata di lapangan.
Padahal, Kalimantan Timur memiliki modal sosial yang kuat melalui berbagai komunitas Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK). Kelompok Kerja Guru (KKG), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), hingga Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah (MKPS) dan Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS) merupakan ruang strategis untuk membangun budaya belajar kolektif.
Komunitas ini sejatinya bukan sekadar forum formalitas, tetapi jantung dari pengembangan profesionalisme guru. Di dalamnya, guru dapat berbagi praktik baik, mendiskusikan tantangan pembelajaran, hingga merancang inovasi berbasis kebutuhan nyata di kelas. Jika terintegrasi dengan kebijakan Hari Belajar Guru, komunitas ini berpotensi menjadi motor penggerak transformasi pendidikan di daerah.
Sayangnya, peran komunitas tersebut belum sepenuhnya optimal. Banyak KKG dan MGMP yang masih berjalan sporadis, belum terprogram dengan baik, bahkan cenderung administratif. Tanpa dukungan kebijakan dan fasilitasi yang memadai, sulit berharap komunitas ini menjadi ruang belajar yang hidup dan berdampak.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!



