Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Stunting di Samarinda Turun 4 Persen: Kolaborasi OPD Berbuah Apresiasi Nasional

Denny Saputra • Rabu, 22 Oktober 2025 | 13:02 WIB

Dokter Ismid Kusasih (tengah) menerima piagam atas keberhasilan menurunkan stunting, dalam agenda Adinkes di Solo, Jawa Tengah, Selasa (21/10).
Dokter Ismid Kusasih (tengah) menerima piagam atas keberhasilan menurunkan stunting, dalam agenda Adinkes di Solo, Jawa Tengah, Selasa (21/10).
 

SAMARINDA - Upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda dalam menekan angka stunting berbuah hasil positif. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Diskes) Samarinda, angka prevalensi stunting berhasil turun dari 24,4 persen pada 2023 menjadi 20,3 persen di 2024.

Penurunan sebesar 4,1 persen itu dinilai signifikan dan menjadi bukti kuat bahwa kerja kolaboratif lintas sektor di Kota Tepian berjalan efektif. Keberhasilan tersebut mendapat apresiasi nasional melalui penghargaan Generasi Maju Bebas Stunting (GMBS) Awards, yang diterima Diskes Samarinda pada ajang Pentaloka Nasional Asosiasi Dinas Kesehatan (Adinkes), Selasa (21/10) di Solo, Jawa Tengah.

Penghargaan itu diserahkan langsung kepada Kepala Dinas Kesehatan Samarinda, dr Ismid Kusasih, yang hadir mewakili Wali Kota Samarinda, Andi Harun. Penurunan 4,1 persen ini bukan angka kecil. Ini hasil kerja bersama seluruh elemen, baik pemerintah maupun masyarakat.

“Kami yakin pola yang sudah terbentuk di 2024 akan terus berlanjut, sehingga hasil 2025 nanti bisa lebih baik lagi,” kata dr Ismid, usai menerima penghargaan, Rabu (22/10).

Ia menjelaskan, penanganan stunting di Samarinda dilakukan melalui intervensi menyeluruh yang melibatkan banyak pihak. Mulai dari pemenuhan gizi ibu hamil dan balita, peningkatan layanan kesehatan dasar seperti imunisasi dan pemantauan tumbuh kembang anak, hingga perbaikan sanitasi dan perilaku hidup bersih sehat (PHBS) di masyarakat.

“Stunting itu tidak bisa ditangani oleh satu instansi saja. Kita bekerja bersama, berbagai OPD, perusahaan daerah, hingga posyandu di tiap kelurahan,” jelasnya.

Program pemberian makanan tambahan (PMT) bagi anak stunting juga digencarkan sepanjang beberapa tahun belakangan ini. Bantuan itu disalurkan gratis oleh kader posyandu di sepuluh kecamatan. “Konsepnya mirip program Makanan Bergizi Gratis (MBG), tapi lebih terarah untuk anak-anak yang sudah terindikasi stunting,” tambah dr Ismid.

Selain intervensi spesifik, Pemkot juga menjalankan langkah pencegahan jangka panjang, salah satunya melalui edukasi gizi dan sanitasi berbasis masyarakat. Menurut Ismid, penghargaan dari Adinkes bukanlah tujuan akhir, melainkan penyemangat agar pelayanan publik terus ditingkatkan.

“Yang paling penting masyarakat bisa merasakan hasilnya. Dukungan dari Pak Wali dan Pak Wakil sangat besar, karena penurunan stunting ini salah satu indikator penting keberhasilan daerah,” tegasnya.

Dia menambahkan untuk capaian di tahun ini, biasanya akan dilakukan survey oleh pemerintah pusat, dan disampaikan di akhir tahun. “Harapannya lebih menurun lagi, karena sepanjang tahun ini programnya melanjutkan yang sudah dilakukan tahun lalu, dan lebih masif lagi,” pungkasnya. (*)

Editor : Sukri Sikki
#stunting #Ismid Kusasih #pemkot samarinda #dinas kesehatan #andi harun