Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Banjir Lumpur Terjang Tanah Merah Samarinda, Warga Sebut Imbas Kegiatan Tambang Batu Bara

Eko Pralistio • Rabu, 5 November 2025 | 18:37 WIB
KELUHAN: Warga Kelurahan Tanah Merah, Kecamatan Samarinda Utara, mengeluhkan banjir lumpur yang kerap merendam lahan pertanian hingga permukiman setiap kali hujan deras mengguyur.
KELUHAN: Warga Kelurahan Tanah Merah, Kecamatan Samarinda Utara, mengeluhkan banjir lumpur yang kerap merendam lahan pertanian hingga permukiman setiap kali hujan deras mengguyur.

 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Warga Kelurahan Tanah Merah, Kecamatan Samarinda Utara, mengeluhkan banjir lumpur yang kerap merendam lahan pertanian hingga permukiman setiap kali hujan deras mengguyur.

Warga menduga, banjir itu terjadi akibat aktivitas tambang batu bara di wilayah sekitar. Hasan Binta (53), pemilik kebun pisang, mengatakan, banjir lumpur itu membuat ratusan pohon pisangnya gagal panen. Padahal, dia baru membuka lahan dan menanam sejak Februari 2024.

“Awalnya tumbuh subur, tapi di pertengahan 2025 tiba-tiba banjir lumpur datang. Lahan yang saya tanam terendam, akhirnya gagal panen,” kata Hasan.

Hasan menanam sekitar 250 pohon pisang di lahan miliknya. Selain itu, banjir lumpur juga merusak ratusan pohon jati dan gaharu yang dirawatnya sejak lama. “Air dari atas bawa lumpur, semua tanaman terendam. Tidak langsung mati, tapi lama-lama menguning dan mati,” ujarnya.

Hasan menduga lumpur itu berasal dari bekas tambang batu bara yang berjarak sekitar 400-500 meter dari lahannya. “Diduga dari limbah tambang di atas, yang bawa lumpur. Ada tiga lahan kena, yaitu lahan gaharu, jati, dan pisang,” ungkapnya.

Dia berharap pihak yang bertanggung jawab atas tambang tersebut dapat mengganti rugi kerugian warga. “Kami enggak minta macam-macam, cuma minta ganti rugi tanaman yang mati,” katanya.

Sementara itu, Musirin (66), penjaga lahan jati dan gaharu mengatakan, banjir lumpur itu sudah dilaporkan ke pihak RT setempat tujuh bulan lalu. “Sempat dari pihak tambang dan Pak RT datang ngecek, kira-kira tiga bulan lalu. Tapi habis itu enggak ada kabar lagi, katanya masih proses,” ucapnya.

Sementara warga lainnya, Mukri (66), yang mengaku rumahnya ikut terdampak banjir lumpur. Dia tinggal di rumah itu sejak 2012, dan baru kali ini banjir bercampur lumpur terjadi. “Dulu banjir cuma air, enggak pernah sampai berlumpur. Sekarang naik sampai ke rumah,” jelasnya.

Mukri yang kini sudah sakit dan sulit berjalan, hanya bisa pasrah. Rumah dua pintu miliknya, satu untuk tempat tinggal dan satu disewakan tak bisa ditempati lagi. “Sekarang saya tinggal di rumah anak. Istri sudah meninggal dua tahun lalu,” ujarnya.

Dia menyebut, tambang di atas wilayah itu sudah tidak beroperasi sekitar empat hingga lima bulan terakhir. Namun, sejak itu justru banjir lumpur sering terjadi. “Setelah tambang berhenti malah muncul banjir lumpur. Setiap hujan, pasti tergenang,” tuturnya.

Banjir lumpur juga menyusahkan Murni (53), warga lain di Tanah Merah. Setiap hujan deras turun, dia harus mengevakuasi suaminya yang lumpuh akibat kecelakaan. “Kalau hujan, saya ungsikan suami ke rumah tetangga. Pernah banjirnya tinggi banget, dia sampai nangis karena enggak bisa apa-apa,” kata Murni sembari menangis.

Dia mengaku sudah tinggal di rumah itu lebih dari 10 tahun, tapi kondisi banjir lumpur baru parah setahun terakhir. “Semua perabotan rusak, habis semua. Suami enggak kerja lagi sejak kecelakaan, saya yang urus semuanya,” ujarnya.

Murni juga sudah dua kali melapor ke kelurahan, tapi belum ada tindak lanjut. “Terakhir seminggu lalu saya lapor, katanya mau ditinjau dulu, tapi sampai sekarang nggak ada. Dalam seminggu bisa 4-5 kali bersihin lumpur,” keluhnya. (*)

Editor : Dwi Restu A
#banjir #tambang #samarinda #batu bara #lumpur