SAMARINDA – Sudah bertahun-tahun SMP 24 Samarinda di Jalan P Suryanata, Kelurahan Bukit Pinang, Kecamatan Samarinda Ulu, menjadi langganan banjir. Hampir setiap musim hujan, air merendam sebagian besar ruang belajar dan halaman sekolah.
Kondisi itu membuat kebutuhan akan revitalisasi bangunan bahkan relokasi semakin mendesak. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, SMP 24 Samarinda, Taufik Khoirudin menyebut warga sekolah sudah terbiasa menghadapi banjir yang kerap datang beberapa kali dalam setahun. “Kebanyakan terjadi saat akhir pekan, jadi waktu sekolah libur,” ujarnya, Kamis (6/11).
Namun, dua pekan terakhir, genangan terjadi di hari aktif sekolah. Air datang dari berbagai arah seperti belakang, samping, hingga depan, dan cepat naik hingga ke koridor. Begitu tanda-tanda air deras dari belakang mulai terlihat, pihak sekolah pun meminta orang tua menjemput anak-anak sebelum banjir makin tinggi.
Letak sekolah yang berada di lembah membuat air cepat masuk, meski juga cepat surut. “Biasanya sore naik, subuh sudah kering. Tapi lumpurnya itu yang berat, bersih-bersihnya bisa seharian,” jelasnya.
Dia menambahkan, usai hujan biasnya kegiatan belajar-mengajar kerap terhenti sementara. Guru, penjaga, hingga siswa yang rumahnya dekat ikut bergotong royong membersihkan ruang kelas. “Kita minta tolong siswa yang jaraknya paling dekat saja. Satu kelas cukup empat sampai lima orang,” ucapnya.
Taufik Khoirudin menceritakan, banjir besar pertama kali terjadi pada 2021, dan sejak itu menjadi rutin. Sebelum 2021 belum pernah banjir. “Tahun itu malah seperti banjir bandang, sekolah sempat libur hampir seminggu,” kenangnya.
Saat ini SMP 24 memiliki 382 siswa dengan 13 rombongan belajar. Sebagian besar berdomisili di sekitar sekolah karena sistem zonasi. Beberapa ruang, seperti aula, laboratorium IPA, dan ruang guru, menjadi titik paling sering terendam. “Lab IPA di belakang itu sudah rusak total. Kalau lab komputer masih bisa diselamatkan karena lantainya agak tinggi,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi banjir, guru dan staf rutin menaikkan kursi serta menyimpan berkas di tempat aman setiap pulang. Meskipun kadang tetap basah juga karena rembesan. Tapi itu bagian dari kewaspadaan kami. “Kami berharap pemerintah bisa membantu dengan membangun sekolah baru yang lebih baik,” tutupnya. (*)
Editor : Sukri Sikki