KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Warga di sejumlah rukun tetangga (RT) di Kelurahan Sempaja Selatan, Kecamatan Samarinda Utara, kembali mengeluhkan banjir yang kian sering dan semakin parah.
Warga menduga kondisi tersebut berkaitan erat dengan masifnya pembangunan di kawasan resapan air, termasuk aktivitas pematangan lahan proyek perluasan RSUD Aji Muhammad Salehuddin II (RS Korpri) di Jalan Wahid Hasyim I, Kelurahan Sempaja Selatan, Kecamatna Samarinda Utara.
Keluhan disampaikan warga RT 14 dan RT 24 Jalan Wahid Hasyim I, RT 26, 27, dan 28 Perumahan Rapak Binuang Indah, serta RT 29 dan RT 30 Perumahan Pondok Surya Indah. Mereka menilai, banjir yang sebelumnya sempat teratasi kini kembali terjadi dengan intensitas dan ketinggian air yang jauh lebih tinggi.
Kepala RT 27 Perumahan Rapak Binuang Indah, Kamaludin, mengatakan, banjir di wilayahnya sempat hampir tidak terjadi selama sekitar dua tahun setelah revitalisasi Sungai Rapak Binuang. Namun, kondisi berubah setelah banyak bangunan berdiri di kawasan resapan air.
“Setelah revitalisasi sungai, hampir dua tahun banjir sudah teratasi. Tapi setelah muncul bangunan-bangunan di wilayah resapan air, banjir kembali parah. Hujan setengah jam saja sudah banjir, apalagi satu jam,” ujarnya.
Sejumlah pembangunan di sekitar kawasan tersebut tidak dibarengi dengan sistem drainase yang memadai. Akibatnya, aliran air dari berbagai wilayah justru terpusat ke Rapak Binuang sebelum bermuara ke Sungai Karang Mumus (SKM), yang kapasitasnya dinilai sudah tidak mampu menampung debit air.
“Air dari banyak kawasan seperti Wahid Hasyim, Batu Besaung, Batu Cermin, AWS Syahrani, sampai Perjuangan dan Pramuka semuanya lari ke sini. Sungainya kecil, tidak mampu menampung debit air. Akhirnya Rapak Binuang jadi pusat banjir,” bebernya.
Menurutnya, kondisi banjir tahun ini merupakan yang terparah. Jika sebelumnya ketinggian air hanya sebatas lutut, kini air bisa mencapai pinggang orang dewasa, dan bertahan hingga dua hari, terutama saat hujan deras berbarengan dengan air pasang.
“Dulu air tidak sampai menutup meja dapur, sekarang sudah lewat 20 sentimeter dari meja, bahkan pinggang. Warga tidak bisa masak, banyak perabot rusak, bantuan juga sangat minim,” ungkapnya.
Rencana pembangunan lanjutan, termasuk pematangan lahan proyek RSUD AMS II (RS Korpri) pasti akan memperparah kondisi banjir karena semakin berkurangnya kawasan resapan air. “Kalau lahan resapan terus ditimbun, air langsung los masuk ke sini. Sungai di sini tidak mampu membuang ke Karang Mumus,” ujarnya.
Warga berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk menanggulangi banjir, melalui penataan tata ruang dan sistem drainase kawasan. “Kami berharap dibuatkan sodetan, misalnya di kawasan Bengkuring, supaya air tidak semua terpusat ke sini. Selain itu, resapan air harus ditambah, supaya debit air bisa tertampung sebelum mengalir ke Karang Mumus,” pungkasnya. (*)
Editor : Dwi Restu A