KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan Kalimantan Timur, termasuk Kota Samarinda, masih harus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah seiring berlangsungnya fenomena iklim global La Nina lemah yang diperkirakan bertahan hingga pertengahan 2026.
Kepala Stasiun BMKG Samarinda, Riza Arian Noor mengatakan berdasarkan analisis dan prediksi BMKG serta sejumlah lembaga iklim dunia, kondisi La Nina lemah berpotensi meningkatkan curah hujan di sejumlah wilayah, meski bukan menjadi satu-satunya faktor penentu terjadinya bencana.
“La Nina itu ada kategorinya, dari lemah, sedang, sampai kuat. Meski saat ini kita berada di kategori lemah, tetap ada peningkatan potensi curah hujan yang harus diwaspadai,” ujar Riza, Kamis (18/12).
Ia menjelaskan, sejak awal November 2025 wilayah Kalimantan Timur telah memasuki musim hujan. Periode musim hujan ini diprediksi berlangsung cukup panjang, hingga akhir Juni 2026. Kondisi tersebut membuat potensi bencana hidrometeorologi basah seperti banjir dan longsor masih tinggi dalam beberapa bulan ke depan.
BMKG mencatat, Kalimantan Timur terbagi ke dalam 22 Zona Musim (ZOM) dengan karakteristik hujan yang berbeda-beda. Karena itu, intensitas dan pola hujan di setiap kabupaten/kota tidak sama.
“Puncak musim hujan di Kaltim ada dua kali, yakni Desember-Januari sebagai puncak pertama, kemudian Maret-April sebagai puncak kedua. Ini karena kita berada di wilayah ekuatorial,” jelasnya.
Pada periode puncak musim hujan, akumulasi curah hujan bulanan cenderung lebih tinggi dibandingkan bulan lainnya. Kondisi ini menuntut peningkatan kewaspadaan karena risiko bencana hidrometeorologi biasanya ikut meningkat.
Selain hujan lebat, BMKG juga mengingatkan potensi cuaca ekstrem lain seperti angin kencang. Berdasarkan data historis, kejadian angin kencang di Kalimantan Timur paling banyak terjadi pada April, saat peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.
“Bulan peralihan itu dinamika atmosfernya tidak stabil, sehingga potensi angin kencang lebih besar,” kata Riza.
Terkait potensi angin puting beliung, Riza menjelaskan fenomena tersebut bersifat lokal dan bergantung pada pertumbuhan awan Cumulonimbus (CB). Selama kondisi atmosfer mendukung pembentukan awan CB, potensi angin puting beliung dapat terjadi di berbagai wilayah.
Untuk wilayah yang perlu meningkatkan kesiapsiagaan, BMKG menyoroti zona barat Kalimantan Timur seperti Mahakam Ulu yang memiliki karakter hujan hampir sepanjang tahun. Selain itu, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, dan Paser juga perlu mewaspadai potensi curah hujan tinggi, terutama pada puncak musim hujan Desember hingga Januari.
Sementara itu, Samarinda disebut berada pada kategori potensi hujan menengah. Namun demikian, Riza menegaskan bahwa ambang batas curah hujan di Kota Tepian relatif rendah.
“Di Samarinda, curah hujan (threshold) sekitar 50 milimeter saja sudah bisa merepotkan dan menimbulkan genangan di banyak titik. Jadi bukan soal kategorinya rendah atau tinggi, tapi soal ambang batasnya,” ujarnya.
BMKG pun mengimbau masyarakat untuk terus memperbarui informasi cuaca dan meningkatkan kewaspadaan. Riza menyarankan masyarakat memanfaatkan kanal resmi BMKG, termasuk aplikasi Info BMKG, agar bisa memperoleh informasi cuaca, hujan, gempa, hingga kelautan secara real time.
“Kami harapkan masyarakat semakin teredukasi dan siap secara mandiri dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah,” pungkasnya. (*)
Editor : Sukri Sikki