SAMARINDA-Pemkot Samarinda mulai mematangkan langkah perbaikan persoalan tempias air hujan di Pasar Pagi. Dinas Perdagangan (Disdag) Samarinda saat ini tengah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) terkait konsep penanganan yang akan diterapkan.
Perbaikan ditargetkan menyentuh seluruh titik yang selama ini terdampak tempias, bukan hanya satu lantai. Kepala Disdag Samarinda Nurrahmani menjelaskan secara prinsip penanganan tempias sudah dikondisikan bersama kontraktor pelaksana.
Namun hingga kini, pihaknya masih menunggu contoh material dan desain teknis yang akan digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. “Tempias itu sebenarnya sudah dikondisikan dengan kontraktor, mereka sudah oke (memperbaiki). Cuma material bahan yang mau dipilihkan itu belum diberikan contohnya ke kami,” ujarnya Kamis (15/1).
Ia menegaskan, pemilihan material tidak bisa dilakukan secara sepihak. Bahkan Disdag berencana membawa contoh bahan tersebut untuk dikonsultasikan terlebih dahulu dengan Wali Kota Samarinda Andi Harun sebelum ditetapkan sebagai solusi final. “Tentu kami konsultasikan ke walikota,” singkatnya.
Menurut Yama (sapaan akrab Nurrahmani), berdasarkan komunikasi terakhir dengan DPUPR, contoh material beserta desain penanganan dijadwalkan akan disampaikan dalam waktu dekat. Bahkan, ia meminta referensi visual dari proyek serupa yang pernah diterapkan di lokasi lain.
“Kemarin kami tanyakan ke Dinas PUPR, 2–3 hari ini akan diberikan contohnya ke kami termasuk desainnya. Kami juga minta videonya, supaya bisa lihat desainnya seperti apa,” jelasnya.
Baca Juga: Tempias di Gedung Baru Pasar Pagi Disorot, DPRD Desak Upaya Mitigasi Segera
Terkait metode penanganan, Nurrahmani memastikan solusi yang disiapkan bukan dengan menutup area pasar secara permanen. Penanganan akan dilakukan menggunakan sistem peneduh menyerupai kanopi yang fleksibel. “Bukan ditutup, tapi bentuknya seperti kanopi yang bisa dibuka tutup,” katanya.
Sementara itu, untuk sumber pendanaan, Nurrahmani membenarkan bahwa perbaikan tempias tersebut akan didukung melalui dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari pihak kontraktor. Langkah itu disebut sebagai bentuk tanggung jawab moral atas kondisi yang terjadi di luar perencanaan awal.
“Dananya dari kontraktornya. Mereka yang kasih, karena mungkin ini di luar perencanaan, tapi mereka mau bantu. Ini beban moral menurut mereka, dan penanganannya tidak hanya satu lantai, tapi menyeluruh di sisi kanan dan kiri sesuai titik-titik yang terdampak,” pungkasnya. (*/riz)
Editor : Muhammad Rizki