KALTIMPOST.ID, SAMARINDA- Kelurahan Bukit Pinang, Kecamatan Samarinda Ulu bersiap melangkah lebih jauh dalam pengelolaan sampah dengan merancang produksi paving block berbahan baku sampah plastik tak bernilai jual. Program ini dirancang sebagai pilot project berbasis lingkungan sekaligus ekonomi warga. Namun realisasinya masih menunggu dukungan CSR dari salah satu perusahaan batu bara yang beroperasi di sekitar wilayah tersebut.
Lurah Bukit Pinang Eko Purwanto menjelaskan pihaknya telah melakukan peninjauan lapangan bersama perusahaan calon pemberi CSR. Dari sembilan bank sampah yang ada, dilakukan pemetaan lokasi dan potensi pengembangan agar program berjalan efektif dan tidak sia-sia. “Kami belajar di Separi Kukar beberapa waktu lalu dibantu tim kecamatan,” ucapnya, Minggu (25/1).
Ia menyebutkan, lokasi produksi paving block akan diprioritaskan di kawasan pinggiran yang minim permukiman untuk menghindari dampak lingkungan seperti asap atau aktivitas pengolahan. Salah satu titik yang telah disiapkan berada di RT 16, dengan lahan cukup luas dan jauh dari pemukiman padat. “Kami gunakan lahan milik warga karena ini pilotproject ya,” singkatnya.
Eko menjelaskan, pengelolaan sampah plastik nantinya difokuskan pada jenis plastik yang tidak lagi bernilai jual, seperti plastik yang telah berubah warna berwarna kuning atau coklat. Sementara plastik bernilai ekonomi tetap disalurkan melalui mekanisme bank sampah yang sudah berjalan. “Dengan sistem ini, pemilahan sampah yang dilakukan bisa lebih efektif karena semua sampah plastik bisa dimanfaatkan,” jelasnya.
Eko mengakui pihaknya belum berani menjalin kerja sama resmi lebih luas, sebelum alat produksi benar-benar tersedia. Ia menyebut pengajuan kerja sama baru akan dilakukan setelah ada kepastian bantuan alat dari perusahaan melalui skema CSR. “Ini juga bergantung dari tim perusahaan ya. Sebelumnya kami bersama tim perusahaan juga sudah menyurvei beberapa titik potensial,” akunya.
Dari sisi SDM, Bukit Pinang dinilai cukup siap. Sembilan pengelola bank sampah telah diajak belajar langsung ke lokasi pengolahan paving block di Separi, Kukar. Bahkan, hasil produksi nantinya sudah memiliki pasar karena dapat diserap oleh mitra pengelola di sana.
“Kami minta CSR-nya itu berupa alat, supaya begitu diterima langsung bisa bekerja. SDM kami siapkan, lokasinya juga sudah kami siapkan, tinggal keputusan dari pusat perusahaan saja,” pungkasnya.
Soal pasar penjualan, Eko mengaku akan bekerja sama dengan perusahaan di Separi, di mana sebelumnya perusahaan itu menjual ke kawasan Ibukota Nusantara (IKN) dengan kebutuhan sekitar 34 ribu buah, namun baru sekitar 7000 buah berhasil dipenuhi. “Nah celah ekonomi ini yang kami jajaki, untuk turut meningkatkan pendapatan warga,” pungkasnya. (*)
Editor : Ismet Rifani