KALTIMPOST.ID, SAMARINDA- Ratusan pemilik Surat Keterangan Tanah Usaha Bangunan (SKTUB) mendatangi Balai Kota Samarinda, Selasa (10/2), untuk meminta kejelasan pendaftaran lapak di gedung baru Pasar Pagi di Kecamatan Samarinda Kota.
Aksi ini merupakan lanjutan dari serangkaian upaya yang sebelumnya telah ditempuh, termasuk audiensi dengan DPRD Samarinda, namun hingga kini belum menghasilkan titik temu. Para pedagang mengaku masih menemui hambatan untuk mendaftar lapak melalui aplikasi yang disiapkan pemerintah.
Perwakilan pemilik SKTUB, Ade Maria Ulfa, menyampaikan bahwa saat ini terdapat 379 lapak ber-SKTUB yang belum dapat didaftarkan dalam sistem. Dari jumlah tersebut, SKTUB dimiliki sekitar 250 orang pedagang yang menuntut hak mereka dikembalikan sesuai dokumen yang dimiliki. “Kami minta dikembalikan sesuai dengan SKTU kami,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut dinilai memberatkan pedagang yang secara ekonomi terbatas. Ade juga menyoroti adanya perbedaan data jumlah kios kosong yang beredar di lapangan dengan yang disampaikan dalam forum resmi. “Hitungan kami masih ada 704 kios kosong, dari lantai 2 sampai 7. Tapi yang beredar saat RDP dengan Komisi III, petak yang tersedia cuma 280,” terangnya.
Menanggapi hal itu, Wali Kota Samarinda Andi Harun menegaskan bahwa pemerintah akan membuka seluruh data secara transparan. Seluruh data lapak pun telah diinput ke sistem yang saat ini masih disempurnakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika. “Soal lapak atau kios, kalau ada sisa kami akan setransparan mungkin. Semua bisa diakses, tidak ada satu pun pedagang yang bisa disembunyikan dari data,” tegasnya.
Andi Harun juga menekankan bahwa Pasar Pagi sepenuhnya diperuntukkan bagi pedagang dan tidak menerapkan sistem sewa-menyewa. Dari agenda itu, dia juga memutuskan masih ada sebanyak 480 lapak yang bisa mengakomodir para pemilik SKTUB ini dan dikoordinasikan melalui Dinas Perdagangan.
“Yang pasti satu pedagang mendapat satu lapak. Kalau masih ada sisa, akan kami umumkan. Mudah-mudahan walaupun belum memuaskan, paling tidak ada yang bisa kita syukuri,” pungkasnya. (*)
Editor : Ismet Rifani