KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bhayangkari Polresta Samarinda Ulu Jawa sebelum diresmikan secara serentak oleh Presiden Republik Indonesia, telah memasuki hari ke-92 pengantaran makanan bergizi gratis. SPPG ini mulai beroperasi pada 22 Oktober 2025.
Setiap hari kerja, dapur ini memproduksi sekitar 2.554 porsi Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan ke sekolah dan posyandu di tiga kelurahan di Kota Samarinda.
Kepala SPPG Bhayangkari Polresta Samarinda Ulu Jawa, Reynaldy Poppy Latief menjelaskan, dapur tersebut melayani tiga kelurahan untuk posyandu, yakni Dadi Mulya, Teluk Lerong Ilir, dan Jawa. Sementara untuk sekolah, cakupan berada di dua kelurahan, Dadi Mulya dan Jawa.
"Untuk sekolah kami melayani TK, SD, dan SMK. Kalau SMP tidak masuk dalam cakupan kami," ujarnya, Jumat (13/2).
Jumlah penerima manfaat MBG dari kalangan pelajar mencapai 2.151 siswa, ditambah tiga guru TK, sehingga totalnya 2.154 orang. Angka itu di luar penerima manfaat dari posyandu yang berjumlah sekitar 400 orang dari tiga titik kumpul. Dengan demikian, total produksi setiap hari mencapai kurang lebih 2.554 porsi.
Operasional dapur SPPG ditopang 46 tenaga relawan. Ditambah tiga personel dari Badan Gizi Nasional (BGN) yakni kepala SPPG, akuntan, dan ahli gizi, total personel menjadi 49 orang.
Untuk distribusi MBG, tersedia dua armada yang melayani tiga kelurahan tersebut. Reynaldy menyebut armada yang ada saat ini masih mencukupi untuk mendistribusikan ribuan porsi setiap hari. "Insya Allah untuk saat ini cukup," kata Reynaldy.
Pengantaran dilakukan bervariasi. Untuk TK, SD, dan posyandu, distribusi dilakukan pagi hari sekitar pukul 08.00-09.00 Wita. Sedangkan untuk SMK dilakukan pukul 12.00 Wita.
Proses pengolahan makanan dimulai sejak malam. Persiapan dan pembersihan bahan dilakukan hingga pukul 02.00 Wita dini hari. Pemasakan pertama untuk kebutuhan pagi dimulai sekitar pukul 03.00-04.00 Wita dini hari. Sementara pemasakan kedua untuk distribusi siang dimulai pukul 07.00-08.00 Wita.“Prosesnya diawasi sejak persiapan. Kami memasak dua kali setiap hari,” jelas Reynaldy.
Terkait anggaran, sesuai juknis BGN, harga murni MBG adalah Rp 10 ribu untuk porsi besar dan Rp 8 ribu untuk porsi kecil. Adapun nominal Rp 15 ribu dan Rp 13 ribu yang tercantum merupakan total anggaran termasuk operasional dan insentif sewa mitra yayasan.
“Rp 5 ribunya itu untuk operasional Rp 3 ribu dan insentif sewa Rp 2 ribu. Jadi standar nasional sudah termasuk operasional dan sewa,” terangnya.
Memasuki Ramadan, pihaknya masih menunggu arahan teknis terbaru. Namun mengacu pada tahun sebelumnya, menu kemungkinan dikemas dalam bentuk makanan kering atau takjil.
Distribusi MBG Ramadan nanti tetap dilakukan ke sekolah dan posyandu melalui titik kumpul. Sementara bagi penerima manfaat MBG yang tidak berpuasa seperti non-muslim, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, tetap akan mendapatkan layanan sesuai kebutuhan.
"Nanti akan ada pendataan ulang bekerja sama dengan kader dan PIC sekolah," pungkasnya. (*)
Editor : Sukri Sikki