KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Kolam retensi seluas 2,6 hektare di dekat Perumahan Sempaja Lestari Indah (SLI) telah rampung dibangun. Namun, Komisi III DPRD Kota Samarinda mengingatkan, proyek itu tak akan efektif jika persoalan penyempitan drainase di hilir belum dibereskan.
Ketua Komisi III DPRD Kota Samarinda, Deni Hakim Anwar mengatakan secara fisik kolam retensi dan pintu air sudah selesai dibangun. Kini tinggal penyambungan drainase dari sisi outlet menuju saluran di Gang Ahim. "Itu yang harus segera dituntaskan," ujarnya, Rabu (4/3).
Menurut Deni, titik krusial justru berada di Gang Ahim menuju Simpang Empat Sempaja. Di lokasi itu terjadi penyempitan saluran yang berpotensi menimbulkan penyempitan atau bottleneck. Padahal, kawasan tersebut merupakan pertemuan aliran air dari Jalan PM Noor, AW Syahrani, dan Wahid Hasyim.
"Kalau daya tampungnya tidak sesuai, air akan kembali dan jadi genangan lagi. Artinya, kolam retensi tidak menyelesaikan masalah," tegasnya.
Ia menekankan fungsi kolam retensi bukan hanya menampung air, tetapi juga mengatur aliran agar tetap berjalan lancar hingga ke hilir. Karena itu, Bagian SDA PUPR Samarinda diminta memastikan seluruh jaringan drainase terhubung secara menyeluruh.
Terkait tambahan anggaran sekitar Rp 6 miliar, Deni menjelaskan dana tersebut dialokasikan untuk penyambungan drainase ke Gang Ahim, pembangunan rumah pompa dan pengadaan pompa, serta instalasi listrik agar kolam retensi dapat beroperasi tahun ini.
"Pembebasan lahannya sudah clear. Memang sebelumnya ada sedikit persoalan sosial, tapi sudah diselesaikan dan pemilik lahannya jelas," ungkapnya.
Dari sisi kapasitas, kolam retensi SLI memiliki luas sekitar 2,6 hektare dengan kedalaman rata-rata 2 hingga 2,5 meter. Dengan spesifikasi tersebut, daya tampungnya diperkirakan mencapai sekitar 55 ribu meter kubik air.
Namun, Deni mengingatkan pembangunan infrastruktur pengendali banjir harus dibarengi penataan kawasan resapan. Ia menyoroti semakin terbatasnya area tangkapan air di Samarinda akibat pesatnya pembangunan.
"Jangan sampai kita bangun kolam retensi tapi drainasenya tidak terhubung. Sama saja bohong. Blueprint harus jelas, semua harus terkoneksi. Tujuan akhirnya satu, mengurangi banjir di Samarinda," pungkasnya. (*)
Editor : Dwi Restu A