SAMARINDA- Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda memastikan belum terjadi kejadian luar biasa (KLB) campak di kota ini. Meski terdapat 62 laporan suspek, hingga kini belum ada kepastian apakah kasus tersebut benar positif campak. Sampel spesimen yang diambil masih dalam proses pemeriksaan laboratorium untuk memastikan diagnosis.
Kepala Dinkes Samarinda dr Ismid Kusasih menjelaskan, laporan dugaan kasus berasal dari sistem pemantauan rutin fasilitas kesehatan. Data tersebut tercatat melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) yang digunakan untuk mendeteksi potensi penyakit menular. “Itu laporan dari penyelidikan epidemiologi SKDR. Data rutin yang disampaikan oleh fasilitas-fasilitas kesehatan,” ujarnya, dikonfirmasi Senin (9/3).
Menurutnya, status suspek berarti kasus masih sebatas dugaan berdasarkan gejala klinis yang muncul. Kepastian diagnosis hanya dapat ditentukan melalui pemeriksaan laboratorium yang lebih mendalam. “Belum tentu campak, karena suspek itu artinya dicurigai. Kepastian diagnosa harus melalui pemeriksaan laboratorium,” jelasnya.
Dia menerangkan, sampel yang diambil dari pasien kini telah dikirim ke tingkat provinsi. Selanjutnya spesimen tersebut akan diteruskan untuk pengujian di laboratorium Kementerian Kesehatan yang berada di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. “Karena butuh peralatan yang lebih lengkap,” singkatnya.
Meski ada laporan dugaan kasus, Dinkes tetap optimistis kondisi Samarinda masih terkendali. Salah satu faktor utamanya adalah cakupan imunisasi campak yang relatif tinggi di kota ini. “Saya tetap optimis Insyaallah tidak ada KLB di Kota Samarinda karena capaian imunisasi kita sudah di atas 90 persen,” tegasnya.
Ismid menambahkan, tingkat imunisasi yang tinggi dapat membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity. Kondisi ini membuat penyebaran virus lebih sulit terjadi secara luas di masyarakat.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk mengenali gejala awal campak. Umumnya penderita mengalami demam, muncul ruam pada kulit, serta keluhan menyerupai infeksi virus seperti nyeri badan. “Kalau ada demam, muncul ruam, dan gejala seperti sakit seluruh badan terutama pada balita, sebaiknya segera ke fasilitas kesehatan. Dengan begitu tenaga kesehatan bisa cepat melakukan pencegahan dan mitigasi agar penularan tidak meluas,” pungkasnya. (*)
Editor : Ismet Rifani