Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Jeritan Seorang Istri di Malam Senyap di Samarinda, Tubuh Dimutilasi Jadi Tujuh, Ini Pengakuan Pelaku

Dwi Restu Amrullah • Senin, 23 Maret 2026 | 06:00 WIB

AKUI: Jafar mengakui aksinya menghabisi nyawa istri sirinya, Suwimi, dengan cara tragis. Tak sendiri, dia dibantu Rusmini (duduk kanan).
AKUI: Jafar mengakui aksinya menghabisi nyawa istri sirinya, Suwimi, dengan cara tragis. Tak sendiri, dia dibantu Rusmini (duduk kanan).

 

 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Jumat (20/3) dini hari, Suwimi, perempuan berusia 35 tahun tidur terlelap bersama suami, Jafar. Tak dinyana, rumah ibu angkatnya jadi tempatnya berpulang dengan cara mengenaskan. 

November 2025, Jafar dan Suwimi menikah secara siri. Saksi pernikahan adalah Rusmini (56), ibu angkatnya. Dalam perjalanannya, hubungan rumah tangga keduanya diwarnai intrik dan masalah. 

Suwimi sebelumnya pernah menikah. Namun, suami sebelumnya ditinggalkan lantaran tak kuasa menemani di kala sakit. 

Berjalannya waktu, Jafar gusar. Dia kerap dituduh Suwimi main serong dengan Rusmini. “Saya difitnah-fitnah terus. Pas ditemukan dan duduk bersama, dianya enggak ngaku (menuduh),” ujar Jafar. Laki-laki berusia 53 tahun itu semula masih bisa menahan amarah. Namun, beda hal dengan Rusmini. “Tapi ibu itu (Rusmini) marah. Kayak apa mau membunuh, saya bilang enggak berani,” imbuhnya. 

Perencanaan pembunuhan itu muncul Januari 2026. “Saya tanya, lokasinya di mana kalau dibunuh, ibu itu yang tunjukkan. Dalam hati saya, tega sekali orang ini (Rusmini). Kalau ditangkap pasti saya bawa-bawa juga,” pikirnya kala itu. 

Jumat lalu, sehari sebelum Lebaran, perbuatan keji itu dilakukan. Pasalnya, Suwimi sempat dikabarkan hendak pulang kampung ke Pemalang. Jawa Tengah. “Sudah saatnya,” ucap Rusmini ke Jafar. Rusmini yang menyiapkan semua alat untuk menghabisi nyawa Suwimi. 

“Saya pukul sampai meninggal. Korban sempat melawan, teriak minta tolong, tapi saya pukul terus. Ibu itu (Rusmini) sempat dorong korban ke dalam kamar lagi. Dia sempat bilang, Mas, aku minta maaf. Tapi enggak saya dengar, tetap pukul terus,” tambah Jafar. 

Sudah tak bernyawa, Jafar sempat bingung. Namun, Rusmini yang menyarankan untuk memutilasi jasad Suwimi. “Potong saja, pakai parang. Alat-alat itu semua dia (Rusmini) yang siapkan. Saya semua yang potong. Pertama kaki kiri. Itu saran Rusmini, ya saya menuruti saja,” imbuhnya. 

Setelah terpotong menjadi tujuh bagian, yakni kaki (betis) kiri dan kanan, paha (kiri-kanan), tangan (kiri-kanan), dan badan yang masih tersambung dengan kepala, Jafar dibantu Rusmini memasukkan ke karung yang juga sudah disediakan. “Dia (Rusmini) yang bersihkan rumah dari darah yang berceceran,” tegasnya. 

Tak bisa langsung sekaligus, Jafar dibantu Rusmini dua kali membuang jasad Suwimi menggunakan Yamaha Mio KT 3956 BBS. “Yang pertama habis Isya. Kemudian yang kedua Sabtu (21/3) sekitar pukul 01.00 Wita,” tegasnya. 

Di malam takbiran, Samarinda seolah tenang. Padahal, satu nyawa melayang akibat kejadian tragis seorang suami dan ibu angkat. Sabtu siang, pukul 13.30 Wita, Jalan Gunung Pelanduk, Kelurahan Sempaja Utara, Kecamatan Samarinda Utara, geger dengan temuan potongan tubuh manusia di beberapa titik. 

“Kami semula 'buta' sekali dengan informasi. Karena memang tak ditemukan identitas di sekitar penemuan potongan tubuh korban,” ujar Kapolresta Samarinda Kombes Pol Hendri Umar. Inafis turun. Pemeriksaan mendalam dilakukan. Tujuh potongan tubuh manusia itu akhirnya diketahui adalah Suwimi. 

Kurang dari 24 jam, kasus mutilasi terungkap. Jafar diringkus di Masjid Babussalam, Jalan M Yamin, Kecamatan Samarinda Ulu, sementara Rusmini diamankan di tempat penganiayaan terjadi, yakni di Jalan Anggur, Kecamatan Samarinda Ulu. (*)

Editor : Dwi Restu A
#Tujuh #mutilasi #istri #samarinda