Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Berharap Memecahkan Masalah Sampah, 10 Insinerator Siap Beroperasi, Target Pangkas Ratusan Ton Per Hari

M Hafiz Alfaruqi • Senin, 30 Maret 2026 | 10:01 WIB

SEGERA BERFUNGSI: Tempat penampungan sementara berfasilitas insinerator di Kelurahan Baqa, Samarinda Seberang.
SEGERA BERFUNGSI: Tempat penampungan sementara berfasilitas insinerator di Kelurahan Baqa, Samarinda Seberang.

 

 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Upaya menekan persoalan sampah memasuki babak baru. Sebanyak 10 Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang dilengkapi fasilitas insinerator yang tersebar di sejumlah titik kini hampir rampung. 

Ditargetkan mulai beroperasi sebelum pertengahan tahun ini. Kehadiran teknologi pembakaran modern itu diharapkan mampu memangkas ratusan ton sampah setiap harinya sekaligus menjaga kualitas lingkungan.

Wali Kota Samarinda Andi Harun menjelaskan, teknologi insinerator yang digunakan berbeda dari pembakaran konvensional. "Insinerator tidak mengeluarkan asap ke udara. Emisi hasil pembakaran akan disalurkan ke bawah melalui sistem filtrasi air, kemudian dilepas setelah memenuhi standar baku mutu," ujarnya.

Menurutnya, pendekatan itu tidak hanya berfokus pada pengurangan volume sampah, tetapi juga memastikan aspek lingkungan tetap terjaga dan tidak mengganggu kesehatan masyarakat maupun estetika kota.

Andi Harun mengungkapkan, secara keseluruhan terdapat 10 unit insinerator yang siap dioperasikan pada 2026. Saat ini, pengerjaan tinggal menyisakan tahap minor seperti penataan taman, pembersihan lokasi, hingga uji coba operasional (commissioning) sebelum resmi difungsikan.

Dari sisi kapasitas, setiap insinerator mampu membakar sekitar 20 ton sampah dalam waktu 8 jam. Jika dioperasikan dalam dua hingga tiga shift, satu unit bisa mengolah hingga 40–60 ton sampah per hari.

Dengan 10 unit yang tersedia, potensi pengurangan sampah diperkirakan mencapai 400 hingga 600 ton per hari. "Itu akan sangat signifikan mengurangi beban sampah yang masuk ke TPA," jelasnya.

Seiring itu, pengelolaan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sambutan juga telah beralih dari sistem open dumping menjadi pengolahan yang lebih ramah lingkungan. Instalasi pengolahan air lindi diklaim telah rampung, meski masih ada pekerjaan tambahan untuk memperkuat daya dukung kawasan tersebut.

Namun, Andi Harun mengakui kapasitas 10 insinerator belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan Samarinda yang memproduksi lebih dari 600 ton sampah per hari. Karena itu, pihaknya tengah menyiapkan rencana pembangunan fasilitas pengolahan sampah skala besar di sekitar TPA, termasuk opsi waste to energy. 

"Kami sedang menjajaki kerja sama dengan pihak swasta. Ada beberapa investor yang serius, termasuk dari dalam negeri dan luar negeri," ungkapnya.

Di sisi lain, ia menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan kota. Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga kesadaran kolektif warga.

"Kalau bukan kita yang peduli terhadap kota ini, siapa lagi. Dengan dukungan masyarakat yang semakin besar, kami optimistis Samarinda bisa menjadi kota yang benar-benar bersih," tegasnya.

Selain mengurangi volume sampah, residu hasil pembakaran insinerator juga akan dimanfaatkan kembali. Abu sisa pembakaran direncanakan diolah menjadi bahan bangunan seperti paving block yang dapat digunakan untuk fasilitas umum.

Pemkot memastikan seluruh fasilitas akan dilengkapi standar keamanan, termasuk alat pemadam kebakaran, sebelum mulai dioperasikan. Targetnya, sebagian besar insinerator sudah bisa berfungsi pada Mei mendatang.

Dengan langkah itu, Samarinda menegaskan komitmennya menjadikan pengelolaan sampah sebagai prioritas utama, sekaligus menjawab tantangan kota urban yang terus berkembang. (*)

 

Editor : Dwi Restu A
#penanganan sampah #samarinda #insinerator