Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

DLH Samarinda Sisir Puluhan Dapur MBG, Imbas IPAL Buruk, Berharap Tak Cuma Fokus Memasak

Denny Saputra • Kamis, 9 April 2026 | 12:06 WIB
PERIKSA: Tim P2KLH DLH Samarinda mendatangi salah satu SPPG di Kecamatan Samarinda Ulu, Kamis, 9 April 2026. (DENNY SAPUTRA/KP)
PERIKSA: Tim P2KLH DLH Samarinda mendatangi salah satu SPPG di Kecamatan Samarinda Ulu, Kamis, 9 April 2026. (DENNY SAPUTRA/KP)

 

SAMARINDA - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda mulai melakukan penyisiran ke sejumlah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Langkah ini dilakukan menindaklanjuti penutupan 12 dapur oleh Badan Gizi Nasional (BGN) akibat buruknya pengelolaan instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Pengecekan tidak hanya menyasar dapur yang bermasalah, tetapi juga seluruh dapur program makan bergizi gratis sebagai langkah pembinaan.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (P2KLH) DLH Samarinda Agus Mariyanto menjelaskan, dapur MBG umumnya dikelola yayasan yang berada di bawah koordinasi BGN. Meski merupakan program pemerintah pusat, pemerintah daerah tetap berupaya memberikan dukungan melalui pendampingan teknis lingkungan.

Baca Juga: DLH Samarinda Inisiatif Turun Lakukan Pendampingan, Imbas Belasan SPPG Ditutup karena IPAL Bermasalah

“Sejak 2025 sebenarnya kami sudah melakukan pembinaan dan pendampingan kepada dapur-dapur MBG di Samarinda. Harapannya sejak awal mereka sudah memiliki perhatian terhadap pengelolaan limbah lingkungan,” ujarnya, dikonfirmasi di sela tinjauan ke beberapa SPPG, Kamis (9/4/2026).

Menurut Agus, pada 2026 upaya pendampingan diperkuat. Hal ini menyusul mencuatnya sejumlah persoalan pengelolaan limbah dapur MBG yang ramai diperbincangkan, termasuk adanya dapur yang ditutup sementara. “Kami lebih intens lagi mendampingi mereka agar memahami aturan pengelolaan limbah yang sebenarnya sudah ada pedomannya,” jelasnya.

Baca Juga: IHSG Terkoreksi Dalam, Asing Lepas Saham Rp 23,34 Triliun

DLH mencatat sekitar 30 dapur MBG telah terdata melalui surat maupun komunikasi langsung. Jumlah tersebut diperkirakan masih bisa bertambah seiring semakin banyak dapur yang mengajukan pendampingan.

Agus menegaskan, secara prinsip pengelolaan limbah dapur tidak rumit. Pengelola hanya perlu memastikan sampah padat, minyak, dan lemak tidak langsung masuk ke bak IPAL.

“Yang sering kami temukan hanya bak penampungan saja, padahal sampah padat dan minyaknya ikut masuk. Seharusnya itu dipisahkan dulu,” terangnya.

Ia berharap pengelola dapur tidak hanya fokus pada proses memasak, tetapi juga bertanggung jawab terhadap pengelolaan limbah agar tidak menimbulkan dampak lingkungan. “Jangan hanya mengelola makanannya saja. Limbahnya juga harus dikelola dengan baik supaya tidak menimbulkan masalah bagi lingkungan sekitar,” tegasnya. (*)

Editor : Sukri Sikki
#Badan Gizi Nasional (BGN) #SPPG #ipal #dlh samarinda