KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kebakaran kembali menguji kerentanan permukiman padat di Kota Tepian. Di Jalan Lambung Mangkurat, Gang Masjid Blok H/I, Kamis (23/4) sore, api melahap enam bangunan dalam waktu singkat.
Di tengah kepungan akses sempit dan dominasi rumah kayu, keberadaan sungai di sekitar lokasi justru menjadi penolong, meski kondisinya dangkal akibat sedimentasi.
Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 14.30 Wita itu menghanguskan total enam bangunan. Rinciannya, lima rumah tunggal dan satu bangunan bangsalan dengan lima pintu. Api baru berhasil dikendalikan setelah upaya pemadaman intensif oleh petugas dan relawan.
Baca Juga: Dampak Aksi 21 April, Teras Samarinda Perlu Perbaikan
Ketua Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP) Kota Samarinda, Syaparuddin yang meninjau lokasi saat kejadian, menyoroti kondisi lingkungan yang dinilai rawan kebakaran.
"Wilayah Gang Masjid ini sangat padat penduduk, mayoritas bangunan berbahan kayu, sehingga sangat rentan terjadi kebakaran. Kita bersyukur masih ada sungai di sekitar lokasi yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber air," ujarnya, Kamis (24/4).
Meski demikian, ia mengakui kondisi sungai tersebut tidak ideal. Sedimentasi yang cukup tebal membuat daya tampung air berkurang. Beruntung, keberadaannya tetap membantu proses pemadaman.
"Saya lihat langsung petugas PMK dan relawan mengambil air dari sungai itu. Alhamdulillah cukup membantu sehingga api bisa lebih cepat diatasi," jelasnya.
Ke depan, pemerintah berencana melakukan normalisasi alur sungai agar lebih optimal sebagai sumber air darurat. Selain itu, penguatan mitigasi di tingkat lingkungan juga akan didorong.
"RT-RT ke depan sebaiknya memiliki alat pemadam api ringan (APAR) dan mesin pompa air. Itu bisa dianggarkan melalui program Probebaya, sebagai langkah antisipasi awal," tambahnya.
Syaparuddin juga menyinggung persoalan lama terkait alur sungai yang tidak lagi mengalir optimal. Ia menyebut, jalur sungai yang seharusnya terhubung ke Sungai Karang Mumus kini terhambat bangunan.
"Memang itu persoalan lama. Alur sungainya seharusnya langsung ke Karang Mumus, tapi terhalang bangunan. Di situ sumber masalahnya. Namun setidaknya, masih ada tampungan air yang bisa dimanfaatkan saat kondisi darurat seperti ini," pungkasnya. (*)
Editor : Sukri Sikki