SAMARINDA - Dinas Kesehatan (Diskes) Samarinda mulai mengoperasikan Unit Pengelola Darah (UPD) di RSUD IA Moeis sebagai upaya memperkuat pelayanan kesehatan dan memenuhi kebutuhan darah internal rumah sakit.
Uji coba operasional telah dilakukan pada Rabu (13/5), sebelum layanan berjalan penuh mulai Senin (18/5). Kehadiran fasilitas ini diharapkan dapat mempercepat akses darah bagi pasien tanpa bergantung penuh pada pasokan luar.
Kepala Dinas Kesehatan Samarinda dr Ismid Kusasih menjelaskan, pembangunan gedung UPD beserta alat kesehatan operasional seluruhnya bersumber dari APBN melalui program hibah Kementerian Kesehatan.
Program tersebut disebut akan terus bergulir hingga tahun anggaran 2027. “Ini bagian dari dukungan pemerintah pusat. Artinya, Kementerian Kesehatan sudah mempercayakan kita memiliki UPD sendiri,” ujarnya, Minggu (17/5).
Menurut dr Ismid, bantuan hibah dari pemerintah pusat menjadi langkah penting di tengah kebijakan efisiensi anggaran daerah. Dengan dukungan tersebut, pelayanan kesehatan tetap dapat ditingkatkan tanpa membebani pembiayaan daerah secara berlebihan.
“Di tengah efisiensi anggaran, penerimaan hibah seperti ini menjadi terobosan dan langkah inovatif agar pelayanan publik, khususnya pelayanan kesehatan, tetap meningkat,” jelasnya.
Baca Juga: Membangun Sinergi, Silaturahmi, dan Dialog Warga Gunung Bahagia-Balikpapan
Dia menilai keberadaan UPD menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kemandirian rumah sakit dalam memenuhi kebutuhan darah pasien, khususnya di lingkungan internal RSUD IA Moeis.
Selama ini, kebutuhan darah masih banyak bergantung pada Palang Merah Indonesia (PMI), yang terkadang menghadapi keterbatasan stok akibat tingginya permintaan. “Dengan UPD ini stok yang tersedia bisa fokus memenuhi kebutuhan rumah sakit,” ucapnya.
Baca Juga: Ketua FK PKBM Kaltim Tegaskan Legalitas Ijazah Paket A, B, dan C Setara Formal
Ismid mencontohkan, rumah sakit besar seperti RSUD AWS yang telah memiliki unit serupa pun masih tetap membutuhkan dukungan suplai darah dari PMI. Kondisi itu menunjukkan kebutuhan darah di Samarinda cukup tinggi, terlebih untuk golongan darah tertentu yang tidak selalu tersedia.
“Kadang PMI bisa kewalahan memenuhi kebutuhan semua rumah sakit. Kalau rumah sakit bisa memenuhi kebutuhan internal sendiri, prosesnya lebih cepat. Saat pasien butuh darah, bisa langsung tersedia,” terangnya.
Untuk menjaga ketersediaan stok darah, Dinkes bersama RSUD IA Moeis juga akan mulai mengintensifkan program donor darah gratis, baik di lingkungan rumah sakit maupun menyasar masyarakat umum.
“Kami akan mulai intensif melakukan program donor darah gratis, baik di lingkungan rumah sakit maupun eksternal masyarakat,” tutupnya. (*)
Editor : Sukri Sikki