KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Isu longsor baru di kawasan Terowongan Samarinda kembali mencuat setelah beredarnya video di media sosial yang memperlihatkan lereng di sisi inlet Jalan Sultan Alimuddin.
Namun, hasil pengecekan langsung di lapangan memastikan kabar tersebut tidak benar. Material tanah yang terlihat dalam video merupakan bekas longsoran lama yang terjadi pada Mei 2025 lalu, bukan longsor baru seperti yang ramai diperbincangkan.
Baca Juga: Mengintip Rekam Jejak Tiga Nakhoda Baru Badan Gizi Nasional Pilihan Prabowo
Ketua Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP) Samarinda Syaparudin menegaskan, pihaknya bersama Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Terowongan Samarinda dan anggota TWAP telah melakukan inspeksi langsung ke lokasi, Minggu (31/5).
"Kami melihat langsung kondisi tebing di puncak terowongan yang diisukan terjadi longsor baru. Faktanya sama sekali tidak ada longsor baru. Itu adalah bekas longsor yang terjadi pada 12 Mei 2025 lalu," ujarnya, Minggu (31/5).
Menurutnya, kondisi konstruksi terowongan saat ini tetap aman dan kokoh. Pemkot Samarinda kini hanya menunggu proses pengujian kelayakan dari tim teknis Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sebelum terowongan dapat difungsikan untuk masyarakat. "Intinya tidak ada longsor baru. Terowongan ini sangat kuat dan kokoh. Saat ini kita hanya menunggu tim penguji dari Kementerian PUPR untuk melakukan uji kelayakan sehingga bisa segera difungsikan," tegasnya.
Syaparudin juga menjelaskan bahwa posisi bekas longsoran berada cukup jauh dari mulut terowongan. Jarak antara titik lereng dengan struktur inlet kanopi terowongan mencapai sekitar 72 meter sehingga tidak membahayakan konstruksi utama. "Jaraknya sangat jauh, sekitar 72 meter dari tebing ke muka kanopi. Posisinya sangat aman. Tidak ada tanda-tanda longsor baru di lokasi tersebut," jelasnya.
Sementara itu, PPK Terowongan Samarinda Rezky Samudra Aprilyan memastikan, struktur kanopi atau cut and cover (CNC) yang dibangun di sisi inlet telah dirancang dengan faktor keamanan tinggi, guna mengantisipasi berbagai kemungkinan pergerakan tanah.
Baca Juga: Trump Ngamuk ke Netanyahu soal Serangan ke Beirut: Kamu Benar-Benar Gila!
Menurutnya, desain struktur tersebut telah dipaparkan dan dikaji bersama Balai Keselamatan dan Terowongan Khusus (BKJTK) Kementerian PUPR. Perhitungan teknis juga telah memperhitungkan kemungkinan terjadinya pergeseran tanah di sekitar area terowongan.
"Struktur cut and cover memang didesain dengan safety factor, desain yang memadai. Hitungan strukturnya sudah memperhitungkan kemungkinan yang tidak diinginkan, termasuk jika terjadi pergeseran tanah," terangnya.
Rezky menambahkan, pada tahap akhir nanti bagian atas struktur kanopi akan ditimbun kembali untuk memperkuat kestabilan lereng di sekitar inlet sekaligus mempercantik tampilan visual terowongan.
Untuk sisi outlet atau arah Jalan Kakap, dia memastikan kondisi saat ini relatif lebih aman dibanding sisi inlet yang sebelumnya sempat menjadi perhatian akibat longsoran lereng. "Kalau sisi outlet sejauh ini relatif aman. Memang perhatian utama sebelumnya ada di sisi inlet, tetapi sampai hari ini kondisinya tetap aman," kuncinya. (*)
Editor : Dwi Restu A